Alvaro berdiri mematung di ruang kerjanya. Cahaya senja menyelinap lewat jendela tinggi, membentuk bayangan panjang di lantai marmer. Tangannya terlipat di d**a, namun pikirannya terpecah. Ada ketegangan yang tak biasa merayap di sela ototnya. “Aku butuh informasi lebih rinci, Mutia,” ucapnya akhirnya. Suaranya datar, namun tajam, seperti bilah baja yang baru diasah. Mutia yang berdiri tak jauh darinya menunduk sopan. “Apa yang ingin Tuan ketahui?” “Ceritakan padaku seperti apa wanita itu. Dari ujung kepala sampai kaki.” Mutia mengangkat wajah. “Wajahnya oval, kulitnya terang, seperti porselen. Hidungnya mancung, bibirnya penuh tapi tidak berlebihan. Rambutnya ikal lembut, berwarna cokelat tua. Bahunya tegap, posturnya tinggi. Ada aura percaya diri yang aneh.” Alvaro mengangguk pelan,

