Langkah kaki Alvaro menggema di lantai marmer butik mewah Berlian Rouge. Butik itu langsung dikosongkan dalam hitungan menit begitu mobil hitam berlogo singa hitam miliknya berhenti di pelataran. Semua pegawai tunduk. Semua akses diblokir. Dunia berhenti ketika Alvaro De Luca memasuki ruangan. Pintu lift terbuka pelan. Irish berdiri membelakangi cermin besar, mengenakan gaun satin hijau tua yang membingkai lekuk tubuhnya dengan presisi sempurna. Rambutnya tersanggul rapi, bibirnya merah merekah. Ia tersenyum melihat pantulan lelaki yang pernah ia puja dalam gelap, berdiri di ambang pintu dengan tatapan mematikan. “Alvaro,” katanya pelan. “Sudah lama sekali.” Alvaro tidak menjawab. Tubuhnya tegap, tangan di saku, sorot matanya menusuk. Matteo berdiri di belakang, tapi hanya sebentar. Tat

