Pintu gerbang besi terbuka pelan. Mobil berhenti di depan halaman luas rumah Reina. Ia turun dengan langkah angkuh, tapi wajahnya terlihat kosong. Rumah megah itu berdiri kokoh, mewah, penuh fasilitas. Namun bukannya merasa bangga, ia justru menarik napas berat. Beberapa pelayan sudah menunggu di depan pintu. “Selamat datang, Nona Reina.” Reina hanya mengangguk singkat. “Ya, aku pulang.” Ia masuk, melewati ruang tamu dengan sofa mahal dan chandelier yang berkilau. Suara langkah kakinya menggema. Tidak ada suara lain. Tidak ada orang yang menyambut dengan pelukan, tidak ada yang menanyakan kabarnya dengan tulus. Hanya rumah kosong yang menyedihkan. Begitu sampai di kamarnya, Reina menutup pintu keras-keras. Ia melempar tas ke sofa, lalu menjatuhkan tubuh ke ranjang. Pandangannya menata

