Malam itu udara terasa berat. Di kamar, Arielle masih terlelap setelah sesi penuh gairah bersama Alvaro. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat namun damai. Alvaro berdiri di sisi ranjang, memandanginya dengan tatapan penuh campuran emosi—sayang, khawatir, dan beban yang tak bisa ia jelaskan. Ia menunduk, mengecup kening Arielle lama, lalu bibirnya turun ke perut istrinya yang lembut. “Tidurlah dengan tenang, Sayang. Papa akan kembali,” bisiknya nyaris tak terdengar. Ia tahu, tak bisa membangunkan Arielle sekarang. Tubuh wanita itu masih butuh istirahat. Maka dengan langkah tegap, Alvaro berbalik dan membuka pintu kamar. Namun begitu ia keluar, langkahnya tertahan. Dari arah lorong panjang, Matteo terlihat berlari. Nafasnya terengah, ekspresinya tegang. Alvaro sempat mengernyit, lalu deng

