Lorong rumah sakit malam itu terasa panjang dan mencekam. Lampu neon di langit-langit berpendar dingin, memantulkan bayangan wajah yang tegang di dinding putih. Bunyi roda brankar yang membawa Reina bergema keras, seolah setiap hentakan roda itu menambah beban di d**a mereka semua. Reina terbujur di atas brankar, wajahnya pucat nyaris tanpa warna. Bibirnya kering, kulitnya dingin, dan setiap tarikan napasnya seperti tinggal hitungan jari. Selang infus sudah menempel di lengannya, cairan menetes pelan, beradu dengan bunyi detak monitor portable yang dibawa tim medis. Matteo berjalan di sisi brankar dengan rahang mengeras. Tangannya gemetar, tapi matanya tak lepas dari wajah Reina. Setiap kali monitor berbunyi dengan ritme tak stabil, tubuhnya refleks menegang. “Cepat… cepat bawa dia masuk

