Warning Eksplisit ⚠️⚠️ Begitu langkah berat itu mendekat, Arielle tidak tahan lagi. Ia berdiri, tubuhnya menegang, suaranya bergetar. “Ke mana kau seharian ini, Alvaro? Kenapa tidak mengabariku sebelum pergi? Aku menunggu, dan aku tidak bisa berhenti berpikir… apa kau marah padaku karena kejadian waktu itu.” Nafasnya tercekat. “Karena aku tidak langsung memberitahumu tentang—” Kalimat itu terputus tiba-tiba. Alvaro melangkah cepat, menangkup wajah Arielle, dan menutup bibirnya dengan ciuman. Awalnya lembut, seolah ingin meredam setiap gugup dan gelisahnya. Namun beberapa detik kemudian, ciuman itu berubah menjadi brutal, dalam, dan menguasai. Nafas Arielle terseret, tubuhnya bergetar, hingga ia terpaksa mendorong d**a Alvaro untuk menghentikannya. Ia terengah, menatap mata suaminya yan

