Alvaro tidak membiarkan jeda terlalu lama. Saat Arielle masih terengah, pria itu sudah kembali mengangkat tubuhnya. Arielle merintih pelan, tubuhnya lemah, namun tatapannya menolak melepaskan. Alvaro membaringkannya ke ranjang, gerakannya tegas namun tetap penuh kehati-hatian, seakan ingin menegaskan bahwa setiap inci tubuh wanita itu adalah miliknya. Arielle menoleh, rambut panjangnya berantakan menutupi sebagian wajah. Ia hendak berkata sesuatu, mungkin menolak, mungkin memohon, namun Alvaro lebih dulu menunduk, mencium bibirnya dengan brutal. Lidah mereka bertaut keras, napas bercampur, hingga Arielle hanya bisa mendesah. Tangannya berusaha menahan d**a Alvaro yang keras, tetapi itu percuma. Tubuh besar itu menindihnya sepenuhnya, menciptakan dinding kokoh yang membuatnya tak punya ja

