Matteo menahan erat, jemarinya mencengkeram kuat lengan rapuh itu. “Apa yang kau lakukan?!” suaranya serak, bercampur marah dan cemas. Reina membuka mata perlahan. Nafasnya masih tersengal, wajahnya pucat. “Aku… aku hanya terpeleset.” “Kau bodoh,” Matteo mendesis, menariknya ke atas hingga berdiri tegak. “Kondisimu bahkan belum pulih, dan kau berlagak seolah tidak apa-apa.” Reina menggertakkan gigi, menepis tangannya pelan. “Lepaskan. Aku bisa berdiri sendiri.” Matteo tidak langsung melepaskan. Tatapannya menusuk, keras, tapi di baliknya ada sesuatu yang bergetar. “Kalau aku terlambat satu detik saja, kau mungkin sudah menghantam lantai. Apa kau ingin kembali ke rumah sakit?” Reina menunduk, gengsinya menahan kata-kata. Ia tahu benar kalau barusan tubuhnya nyaris tak tertolong. Tapi i

