Matteo masih duduk di kursi, separuh matanya terpejam. Tubuhnya kelelahan, pikirannya kacau, tapi instingnya tetap waspada. Reina berbaring membelakanginya, atau setidaknya itulah yang ia kira. Tiba-tiba Matteo merasakan sesuatu yang hangat di bibirnya. Sekilas ia mengira itu mimpi, tapi begitu matanya terbuka, wajah Reina ada tepat di depannya, bibirnya menempel pada bibirnya. Matteo sontak bangun, tangannya refleks mendorong bahu Reina. “Apa kau sudah gila?” Reina justru tersenyum samar, matanya berkilat aneh. “Iya. Aku gila, Matteo.” Suaranya rendah, nyaris berbisik, namun penuh kejujuran yang menohok. Matteo menyipitkan mata, rahangnya mengeras. “Kau bahkan belum pulih. Tubuhmu masih lemah. Dan sekarang kau malah—” “Aku ingin bercinta denganmu,” potong Reina cepat, suaranya tajam

