Udara kamar masih hangat dengan sisa napas dan aroma tubuh mereka. Arielle berbaring di d**a Alvaro, merasakan ritme jantung pria itu yang kini lebih tenang. Lampu redup di sisi ranjang menyorot kulitnya yang lembut, sedangkan tangan Alvaro masih melingkari pinggangnya, seolah tak mengizinkannya pergi. Arielle membuka mata perlahan, menatap garis rahang suaminya yang kokoh di bawah cahaya. “Kau tidak tidur?” tanyanya pelan. Alvaro menoleh dan tersenyum tipis. “Belum. Aku sedang berpikir tentang Leon.” Arielle mengangkat wajah sedikit, matanya lembut. “Kenapa dengan Leon?” Anak itu seperti cermin masa lalu yang tak pernah benar-benar memudar dari pikirannya. Alvaro menarik napas perlahan. “Dia tumbuh terlalu cepat, Elle. Cara berpikirnya, caranya membaca keadaan, bahkan cara dia bicara

