Setelah percakapan hangat bersama Alvaro di ruang kerja, Matteo kembali ke kamarnya. Wajahnya masih menyimpan sisa-sisa kegelisahan dari perbincangan yang terjadi sebelumnya. Ia tahu, niat Alvaro untuk pensiun bukan hal yang bisa dianggap ringan. Tapi Matteo memilih menyimpan itu sendiri, belum waktunya untuk dibahas lebih jauh, bahkan pada Reina. Reina tengah menyisir rambut di depan cermin saat Matteo membuka pintu. Sekilas, perempuan itu menoleh. “Sudah selesai bicara?” “Sudah,” jawab Matteo singkat. Ia melepas jasnya dan menggantungnya rapi. Ada jeda di antara mereka. Lalu Reina berdehem pelan. “Aku ingin menjual rumah peninggalan orang tuaku,” katanya tiba-tiba, tanpa menatap Matteo. Pria itu mengernyit. “Kenapa mendadak sekali?” “Aku juga ingin membeli rumah baru. Bukan yang me

