Malam di taman itu pekat, hanya ditemani gemericik air dari pancuran kecil di ujung halaman. Reina masih terengah, jemarinya menyentuh bibirnya sendiri yang basah oleh ciuman barusan. Matteo berdiri di hadapannya, napasnya memburu, wajahnya keras, sorot matanya penuh amarah sekaligus gejolak yang sulit disembunyikan. “Kau gila, Reina,” suara Matteo serak, terdengar lebih seperti geraman daripada kalimat normal. “Apa kau sadar apa yang baru saja kau lakukan?” Reina mendongak, menatapnya dengan sorot tajam penuh perlawanan. “Kalau aku gila, kau juga sama. Kau tidak menolakku, Matteo. Kau balas menciumku.” Rahang Matteo mengeras, seolah mencari alasan untuk menyangkal. “Aku hanya terpancing, bukan berarti aku menginginkanmu.” Reina terkekeh pelan, getir, tapi bibirnya tetap melengkung sin

