Bocah itu malah menahan tawa, bibirnya meringis nakal. "Pantas wajahmu merah. Aku tau, Matteo selalu bilang kau menyebalkan. Jadi, apa kau mengganggunya semalaman? Kenapa dia masih tidur? Biasanya jam segini Matteo sudah marah-marah mencari kopi." Reina kehabisan kata. Pipinya makin panas. Ia buru-buru menunduk, hendak kabur melewati Leon. Tapi bocah itu menahan langkahnya dengan berdiri tepat di depan. "Aku akan bilang pada Papa," ucap Leon datar, penuh ancaman khas anak kecil. Reina menatapnya tajam. "Jangan berani, bocah!!" Leon menyeringai. "Kalau kau tidak mau aku cerita, belikan aku es krim besar siang nanti. Dua rasa." Reina menghela napas panjang, wajahnya setengah malu setengah jengkel. "Dasar bocah pemeras." Leon mengangkat alis tinggi-tinggi. "Aku pewaris De Luca. Bukan pe

