Matteo berdiri di depan meja kerjanya, ponsel di tangan, jari-jarinya sempat ragu sebelum akhirnya menekan nomor yang hanya sedikit orang berani menyimpan. Suara sambungan terdengar berdering, lalu berhenti dengan klik singkat. Nada dering berakhir dan suara berat namun berkelas terdengar dari seberang. “Tuan Matteo Morata, benar Anda yang menghubungi saya?” Matteo menelan ludah lalu buru-buru merapatkan ponsel ke telinga. “Benar Tuan, saya menyampaikan titah dari Tuan Alvaro De Luca, beliau mengundang Anda beserta Nyonya untuk makan malam di mansion besok malam.” Hening singkat mengikuti jawaban itu. Di ruangannya yang temaram, Abimana berdiri tegak di samping ranjang, menatap istrinya yang masih tertidur pulas. Sebuah tablet tergeletak di sisi ranjang, layarnya masih menampilkan kata

