Udara di mansion De Luca malam itu terasa sedikit berbeda. Langit tampak berat, seolah menahan sesuatu yang belum turun. Di lantai dua, kamar Leon masih terang. Bocah itu duduk bersila di ranjangnya, ditemani Mutia sang pengasuh yang sabar, mendengarkan ocehan polos yang tak ada habisnya. “Aku kira itu hadiah dari seseorang yang diam-diam suka padaku,” kata Leon sambil memainkan boneka robot barunya. “Ternyata bukan, Mutia. Hadiah itu malah bikin aku hampir menjerit.” Mutia menatapnya heran. “Hadiah apa, Tuan Muda?” Leon membuka mulutnya, tapi belum sempat menjawab, pintu kamar terbuka perlahan. Suara langkah sepatu kulit terdengar tegas di lantai marmer, dan sosok Alvaro muncul di ambang pintu. Tatapannya tajam, dingin, dan suaranya berat seperti biasa. “Apa yang kau bicarakan, Leon?”

