Alvaro menggeleng pelan, matanya tak lepas dari layar. "Kau akan menutup lorong dan memotong gerakannya. Jangan menyentuhnya duluan. Kau sedang panas, dan orang panas cenderung meneteskan darah di tempat yang salah." Matteo menerima teguran itu tanpa membantah, wajahnya tetap tenang. "Siap." Pintu bergeser, dan Reina muncul dengan jaket hitam, rambutnya diikat tinggi, wajah tanpa rias. Tatapannya langsung ke layar, suaranya datar. "Carvelli datang membawa rombongan. Datangkan juga rombongan kami?" Alvaro menatap sekilas, ekspresinya tak berubah. "Ini rumahku, bukan pasar. Kita tidak perlu ramai untuk membuat mereka diam." Reina menahan senyum, mata Alvaro kembali ke layar. "Jagamu di barat," perintah Alvaro, suaranya tegas. "Kau pegang koridor kedua. Tidak ada aksi sendiri. Dengarkan k

