Langit malam di atas mansion itu gelap sempurna. Awan tebal menutupi cahaya bintang, tapi lampu-lampu taman yang berpendar lembut tetap membuat halaman depan terlihat seperti oasis kecil yang tenang. Di dalam rumah, suasananya jauh lebih lembut dari biasanya. Tak ada percakapan keras, tak ada langkah kaki tergesa, bahkan Mutia berjalan dengan ujung jari agar tak menimbulkan suara berisik di lantai marmer. Di kamar utama, Alvaro berbaring menyamping, tubuhnya bersandar lemas di atas bantal empuk. Raut wajahnya masih pucat, tapi napasnya sudah lebih tenang. Beberapa perban tipis membalut luka-luka sisa perkelahian dan ledakan yang baru saja ia lalui. Tapi rasa nyeri itu bukan hal yang membuatnya gelisah malam ini. Yang membuatnya terus membuka mata adalah kenyataan bahwa wanita yang ia cin

