Ruang tamu mansion De Luca senyap. Jam dinding berdetak teratur, tirai berayun pelan karena hembus angin dari jendela yang sedikit terbuka. Arielle berjalan mondar-mandir di karpet, satu tangan menahan perut, satu lagi menyentuh punggung sofa setiap kali ia berbelok. Ia sudah mencoba masuk kamar, tetapi kegelisahan memaksanya kembali ke sini. Pengalaman telah mengajarinya, bila Alvaro memilih berada di markas, berarti keadaan tidak sederhana. Ia berhenti di depan jendela, menatap halaman yang bermandikan cahaya lampu. Napasnya ia atur pelan, namun detak jantung tetap lebih cepat dari biasa. Ia merapatkan syal tipis di bahu, lalu memejam sejenak untuk menenangkan diri. Tidak berhasil. Hatinya tetap menunggu bunyi mobil yang tidak kunjung terdengar. Suara langkah kecil muncul dari arah kor

