Arielle sudah berpindah ke ranjang. Selimut ditarik sampai d**a, lampu kamar diredupkan, dan napasnya tenang. Alvaro berdiri sejenak di ambang, memastikan bantal menopang lehernya dengan pas. Setelah yakin, ia berbalik menuju area rias. Cermin tinggi memantulkan sosoknya dari kepala sampai kaki. Luka gores di d**a, memar biru keunguan di tulang rusuk, sisa debu dan darah kering di kulitnya. Ia mengangkat dagu, tersenyum tipis pada bayangannya. “Luka kecil yang merepotkan.” Kotak obat tergeletak di meja. Ia membuka tutupnya, menimbang, lalu menutup kembali. “Besok juga hilang.” Jemarinya mengetuk ringan tepi kotak, seolah mengakhiri sidang singkat, kemudian ia melangkah ke lemari dan menanggalkan sisa pakaian satu per satu. Ikat pinggang lepas. Kancing terbuka. Kain turun dari pinggang ya

