Malam menjelang larut ketika Reina akhirnya melepas sepatu hak tinggi yang sedari tadi membebani langkahnya. Suara helaan napasnya terdengar pelan namun jelas, saat ia bersandar di sisi tempat tidur sambil memijat perlahan pergelangan kakinya. Raut wajahnya menegang. “Tumitku seolah disayat,” gumamnya lirih. Matteo yang tengah melepas dasi, langsung menoleh. Langkahnya tenang saat mendekat, namun sorot matanya berubah penuh kekhawatiran. “Kau terluka?” tanyanya, menunduk memeriksa kaki sang istri yang kini telanjang tanpa sepatu. Reina mengangkat wajah. “Hanya lecet kecil, mungkin juga lebam. Tapi cukup membuatku ingin membakar sepatu itu.” Tanpa bertanya lagi, Matteo berlutut di hadapan Reina. Jemarinya menyentuh pergelangan kaki sang istri dengan hati-hati, lalu mengangkatnya ke pan

