Alvaro duduk tegak di kursi kayu berat itu, bayangan lampu gantung menimpa setengah wajahnya, memberi siluet keras pada garis rahang yang sudah menegang sejak Leon menuntut jawaban. Bocah itu tidak bergeming. Sorot matanya menuntut, bibirnya terkatup rapat, kedua tangannya terkepal di atas meja. Piring nasi di depannya kosong, benar-benar bersih, seperti bukti ia sudah menepati syarat yang dipasang Alvaro. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alvaro merasakan dirinya terjebak bukan oleh musuh, bukan oleh politik, bukan pula oleh mafia yang siap menaruh peluru di tengkoraknya, melainkan oleh tatapan seorang bocah enam tahun. Darah dagingnya. Ia menghela napas panjang, lalu mencondongkan tubuh. Suaranya dalam, pelan, namun penuh daya yang menghantam langsung ke telinga Leon. “Aku tidak

