Hari Selasa itu berjalan seperti hari - hari lain yang ada di kalender, tapi ada sesuatu yang tak terlihat terasa menggantung di udara sekolah, sejak dua hari ini. Sandra semakin sering terlihat bersama Arsya, mereka memang belum terang - terangan sudah jadian, belum ada pengumuman resmi, tapi cara Sandra berdiri di samping Arsya, menghampiri kelas Arsya dari kemarin, lalu pas jam istirahat memisahkan diri, semuanya terlalu jelas untuk dianggap kebetulan.
Di kalangan teman - teman Arsya, selintingan mulai beredar. Mereka tentu saja tidak bodoh menangkap gelagat yang ada. Geng Arsya sudah terlalu sering menyaksikan dia PDKT dan putus-nyambung, jadi insting mereka tajam. Mereka hanya butuh satu hal, yaitu konfirmasi dari Arsya langsung!
Dede juga sudah mendengar bisikan itu di sana - sini, tapi ia tidak ikut campur walau ia sudah tahu semuanya. Ia juga tidak ikut kasih pendapat ketika Tanti ikut bertanya karena penasaran. Ia hanya menjalani harinya seperti biasa, dengan jarak yang semakin ia rapikan, dengan sikap yang semakin ia jaga agar tidak terlihat apa - apa alias semua baik - baik aja.
Tanti, di sisi lain, semakin sering diam saat melihat Sandra datang ke kelas mereka. Bukan karena takut, tapi karena ia tahu betul, Dede bukan tidak merasa apa-apa. Dede hanya memilih untuk tidak menunjukkannya dan sebagai teman dia harus empati.
Pagi ini, Dede datang lebih awal. Ia duduk bersama Tanti, menyiapkan buku pelajaran. Arsya masuk belakangan, disambut Opung dan yang lain dengan celetukan yang membuat beberapa anak tertawa. Sandra sempat menemani sampai di depan kelas, tapi langsung pergi, tidak tahu apakah mereka sekarang sudah pergi sekolah sama-sama atau tidak. Dede hanya melirik sekilas ke arah Arsya sebelum dia duduk, semua tampak normal.
Setelah jam pelajaran pertama, Dede merasa tenggorokannya sedikit kering. Ia mengambil botol minum dari tas, tapi airnya sudah tinggal sedikit karena dia tadi hanya mengisi setengah, wajar baru dua kali minum langsung habis . Jadi saat bel istirahat pertama berbunyi, ia berdiri.
"Aku mau ke kantin bentar ya, minumku habis," kata Dede ke Tanti.
Tanti ikut berdiri. "Aku ikut lah"
Istirahat pertama mereka memang jarang ke kantin sebenarnya, tanggung ... nanti jam ke dua baru cari makan sekalian makan siang.
Mereka berjalan berdampingan, lorong sekolah penuh siswa. Suara tawa dan teriakan kecil bercampur. Dede melangkah tanpa tergesa. Ia hanya ingin beli air dan mungkin sesuatu yang ringan. Ia tidak sedang ingin makan apapun atau bertemu siapa pun.
Tapi hari itu, arah langkah membawa mereka ke sudut kantin yang berbeda dari biasanya.
Di belakang kantin, ada jalur sempit yang jarang dilewati siswa kecuali yang ingin lewat cepat atau sekadar mencari tempat sepi. Dede dan Tanti lewat sana karena jalan utama terlalu ramai, dan mereka hanya ingin mengambil jalan pintas.
Di situlah mereka mendengar suara itu.
Bukan suara ramai biasa, bukan juga suara anak - anak yang bercanda keras. Itu suara geng Arsya, nada mereka khas, tertawa yang terlalu yakin, dan cara bicara yang seolah dunia ini hanya milik mereka.
Tanti spontan memperlambat langkah. Dede ikut berhenti, tanpa sadar.
Di balik tembok kantin, suara percakapan itu terdengar jelas.
"Serius kau jadian sama si Sandra itu, Sya?"
Yang bertanya memang tidak kelihatan orangnya, tapi Dede dan Tanti tahu itu suara Sangga.
Dede merasakan jantungnya berdegup. Seperti ada sesuatu yang mengetuk dari dalam, bukan kaget, tapi semacam penegasan yang akhirnya datang juga.
"Iya lah," jawab Arsya santai.
Jawaban itu jatuh begitu mudah. Seolah tidak ada beban. Seolah itu hal paling biasa.
"Wuih, mantap kali. Ketua susah dilawan."
Mereka tertawa.
Tawa itu menggema di ruang sempit belakang kantin, memantul ke tembok, lalu kembali menghantam telinga Dede. Bunyinya bukan jahat, bukan tertawa mengejek. Tapi cukup untuk membuat dadanya terasa makin sesak.
"Eh tapi sudah kau jelaskan sama si Sandra, kan, kalau si Dede itu cuma kawan? Jangan pula kau nanti ribut lagi macam sama si Esti dulu."
Dede membeku.
Kalimat itu seperti memanggil namanya keluar dari mulut orang lain, menempatkannya di meja obrolan yang tidak pernah ia minta. Ia ingin melangkah pergi, tapi kakinya berat. Ada bagian dari dirinya yang ingin mendengar sampai selesai, meski ia tahu apa pun yang keluar setelah ini tidak akan membuatnya baik - baik saja.
"Sudah lah. Lagian Dede itu bukan siapa - siapa. Cuma kawan dari kecil aja. Mana mungkin juga aku pacaran sama dia, bukan tipeku. Tomboy kali."
Dede menggigit bibirnya.
Bukan tipeku.
Kata itu pernah ia dengar sebelumnya, tapi setiap kali ia mendengarnya lagi, rasanya tetap sama, seperti ada tangan yang meremas pelan dari dalam d**a. Tidak sampai membuatnya jatuh, tapi cukup membuat napasnya pendek.
"Bah,kalau kau pacaran sama Dede, bisa kau dipiting nanti, sabuk hitam, lho, dia."
Tawa mereka menggema.
Kata "sabuk hitam" disebut seperti punchline. Seolah itu hal lucu, seolah itu alasan untuk tidak jatuh cinta pada seseorang, seolah kekuatan yang Dede bangun sejak SD hanya pantas jadi bahan candaan.
Dede tetap diam. Wajahnya tidak berubah. Tapi dadanya terasa seperti dipenuhi sesuatu yang terlalu berat untuk ia telan.
Tanti menoleh ke arahnya. Mata Tanti menangkap sesuatu yang tidak pernah ia ingin lihat, Dede yang hampir runtuh tapi masih berdiri.
Tawa mereka masih terdengar, tapi Dede tidak lagi mendengar semuanya dengan jelas. Suara itu seperti menjauh, menjadi gema jauh di kepala. Yang tersisa hanya kalimat - kalimat tadi yang terus berputar, menabrak - nabrak bagian dalam dirinya.
Bukan siapa - siapa.
Cuma kawan.
Bukan tipe.
Tomboy.
Dede merasa keringat dingin muncul di telapak tangannya. Ia menelan ludah, tapi tenggorokannya terasa sempit.
Tawa mereka menggema, sementara di balik tembok kantin, Dede hanya mampu menggigit bibirnya. Dadanya sesak. Tanti segera menarik tangannya, mengajaknya kembali ke kelas tanpa sepatah kata.
Dede menurut. Ia tidak melawan dan membiarkan Tanti membawanya pergi seperti membawa seseorang yang hampir jatuh.
Di jalan kembali menuju kelas, Tanti tidak bicara. Dede juga tidak bicara. Mereka berjalan melewati keramaian, melewati siswa - siswa yang tidak tahu apa yang baru saja terjadi di balik tembok kantin. Dunia sekolah tetap berjalan, seolah tidak ada yang pecah.
"De!"
Panggilan itu membuat langkah mereka terhenti, itu suara Sandra, Dede tahu betul.
Sandra berjalan dari arah ruang guru.
"Ya ... kenapa, San?" tanya Dede pelan sambil menoleh.
"Lihat Arsya, nggak?"
"Arsya di belakang kantin sama teman - temannya," jawab Dede.
"Oke, makasih ya."
Dede tersenyum, jelas terlihat dia terpaksa.
Sandra meninggalkan mereka dan berjalan menuju kantin. Sepertinya tadi Sandra di ruang guru, mungkin dipanggil untuk satu kegiatan sehingga ditinggal Arsya ke kantin.
Di dalam kelas, Dede duduk di bangkunya. Ia membuka buku dan menatap halaman yang sama selama beberapa detik tanpa membaca satu kata pun.
Tanti yag duduk di sampingnya, hanya memperhatikan. Ia ingin memaki, ingin mendatangi geng Arsya tadi, ingin menarik Arsya dari kerahnya dan memaksa dia melihat siapa yang selama ini dia sebut "bukan siapa - siapa tadi".
Tapi ia tahu pasti Dede tidak ingin itu terjadi, dia pasti membela Arsya, Tanti sudah hafal betul.
Dede hanya menarik napas pelan, lalu menghembuskannya.
Dede tidak menangis dan tidak membuat suara apapun. Dia hanya tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip pertahanan daripada kebahagiaan.
Karena begitulah Dede selama ini.
Tanti sangat yakin, kalau saat ini Arsya datang dan memintanya melakukan sesuatu, Dede tidak akan keberatan, bahkan dengan senang hati, itu sangat menyebalkan.
Di matras, ia bisa menendang, bisa menjatuhkan orang dengan teknik yang rapi. Tapi di hadapan perasaan, ia selalu memilih satu hal yang paling sulit, menahan diri agar tidak terlihat terluka.
Setelah bel pelajaran berbunyi, guru masuk, dan kelas kembali hening, Arsya dan teman - temannya juga diam. Dede menunduk, mencatat seolah tidak terjadi apa - apa.
Namun di dalam kepalanya, kata - kata itu sudah terlanjur masuk, tidak bisa ditarik keluar.
Dan sejak Sandra hadir, Dede mulai menyadari dengan jelas jarak yang terbentuk ini bukan hanya karena Sandra, atau karena Arsya sedang bucin, tapi jarak ini terbentuk karena Arsya sendiri, dengan mulutnya sendiri mengatakan bahwa Dede bukan siapa - siapa. Ya memang bukan siapa-siapa, tapi tidak usah ditegaskan dan jadi bahan tertawaan bisa, kan?
Pelan-pelan, tanpa drama, Dede mulai memahami kalau mencintai diam-diam bukan hanya soal tidak berharap dibalas. Kadang, itu juga soal siap menelan kenyataan paling pahit bahwa di mata orang yang dicintai, ia bahkan tidak pernah masuk hitungan.
Sadis!
Di sampingnya, Tanti menoleh dan berbisik pelan, hampir tak terdengar, "De …"
Dede menggeleng kecil, tanpa menoleh. Ia masih menatap bukunya.
Bukan karena ia baik - baik saja, tapi karena ia tidak mau runtuh di tempat yang salah.
Dan hari Selasa ini, di balik tembok kantin yang kotor dan tawa yang menggema tadi, sesuatu di dalam diri Dede akhirnya retak.
Tidak pecah.
Belum.
Karena belum pecah itu, sikap yang diambilnya jadi plin plan, membuat orang seperti Tanti kesal melihatnya, tersakiti tapi tetap baik.
"Bucin boleh aja, tapi jangan ugal-ugalan nggak jelas gitu!" oceh Tanti di belakang Dede.
----
Bel pulang sekolah berbunyi panjang, memecah suasana kelas yang sejak tadi terasa pengap. Kursi - kursi bergeser, suara siswa kembali memenuhi ruangan. Guru pelajaran terakhir menutup bukunya, memberi beberapa pesan singkat, lalu keluar kelas tanpa banyak basa - basi.
Arsya berdiri hampir bersamaan dengan guru itu. Gerakannya cepat, rapi. Ia menyampirkan tas ke bahu, menoleh sekilas ke arah Opung dan beberapa temannya, lalu melangkah keluar kelas. Tidak ada lirikan ke bangku tengah dekat jendela, tidak ada ajakan seperti biasanya.
Dede melihat semuanya dari tempat duduknya. Ia tidak kaget, ia sudah menyiapkan dirinya untuk hal seperti ini sejak pagi.
Tanti berdiri di sampingnya, menutup buku dengan gerakan agak keras. "Kita langsung pulang aja lah," katanya pelan.
Dede mengangguk. "Iya."
Mereka keluar kelas bersama arus siswa lain. Lorong sekolah ramai, tapi Dede merasa ada jarak aneh antara dirinya dan dunia di sekitarnya.
Ia tahu, Arsya tidak akan ada di sekitarnya, pasti sudah ke parkiran mobilnya menunggu Sandra.
Di halaman sekolah, siswa - siswa sudah berpencar. Beberapa menuju parkiran, beberapa menunggu jemputan, sisanya berjalan ke arah jalan besar untuk naik angkot atau ojek. Dede dan Tanti melangkah ke arah gerbang, tempat kendaraan umum biasa berhenti.
"Kau yakin nggak mau nunggu?" tanya Tanti, meski nada suaranya tahu jawabannya.
"Nggak, mau nunggu siapa rupanya?" jawab Dede singkat. "Aku mau langsung pulang aja."
Mereka berjalan berdampingan, tas di pundak, langkah tidak terlalu cepat. Dede menatap jalanan di depan, memperhatikan bayangan kaki mereka di aspal yang panas.
Tepat ketika mereka hampir sampai ke ujung gerbang, sebuah suara menyapa dari belakang.
"Mau ke mana kelen?"
Dede berhenti, langkahnya tertahan begitu saja.
Tanti menoleh lebih dulu. "Eh … Arman."
Dede ikut menoleh. Di belakang mereka berdiri Arman, membawa tas punggungnya, rambutnya sedikit berantakan seperti orang yang baru saja keluar dari kelas dengan kepala penuh. Mobilnya terparkir tidak jauh dari situ.
"Pulang lah, Bang," jawab Dede.
"Pulang naik apa?" tanyanya lagi.
"Naik angkot aja, aku nggak buru - buru sama Tanti," jawab Dede.
Arman mengangkat alis. "Biasanya kamu pulang sama Arsya."
Dede mengangkat bahu kecil. "Hari ini nggak."
Kemarin juga tidak, Arman melihatnya... Tidak ada Dede di mobil Arsya.
Tanti menahan napas, ia menunggu Arman bicara lagi, atau mungkin berhenti. Tapi Arman justru melangkah lebih dekat.
"Mobilku di sana," katanya sambil menunjuk. "Kelen ikut aku aja."
"Nggak usah lah, bang ... Aku naik kendaraan umum aja sama Tanti."
"Kek sama orang lain aja."
Tanti ragu-ragu. "Nggak merepotkan kalau kami ikut?"
Arman mendengus kecil. "Apa pula repotnya. Sekalian jalan."
Dede ingin menolak. Refleks itu muncul begitu saja. Tapi ia terlalu lelah untuk beralasan dan berpura-pura semuanya baik - baik saja.
"Ikut lah kita, De," kata Tanti pelan.
Dede akhirnya mengangguk. "Ya sudah."
Mereka berjalan menuju mobil Arman. Di sepanjang jalan itu, Dede tidak menoleh ke arah parkiran lain. Ia tidak ingin melihat apakah Arsya masih ada, atau sudah pergi bersama Sandra. Ia tidak ingin menambah satu gambar lagi ke kepalanya hari ini. Kebetulan mobil Arsya tidak parkir di sebelah mobil Arman seperti biasa, entah ini suatu keberuntungan atau kebetulan saja.
Di dalam mobil, suasana awalnya sunyi. Arman menyalakan mesin, lalu memutar arah keluar dari parkiran depan sekolah. Tanti duduk di kursi belakang, Dede di depan.
"Arsya mana?" tanya Arman, nadanya terdengar santai, tapi jelas bukan sekadar basa - basi.
"Dia pulang duluan tadi sama Sandra, mau pigi orang itu kayaknya."
"Kenapa kamu nggak ikut?"
"Mungkin orang itu ada perlu, nggak harus selalu ikut kan, aku?"
Jawaban Dede adalah palsu, tapi setidaknya hanya Tanti yang tahu.
Arman terdiam. Ia tidak memaksa. Tapi diamnya justru memberi ruang bagi hal - hal yang selama ini tidak terucap.
Mobil melaju melewati jalan besar. Suara klakson sesekali terdengar. Panas sore Medan tidak terasa karena di dalam mobil begitu dingin.
Tanti akhirnya bersuara. " Arsya sama Sandra itu sudah jadian."
Arman menghela napas panjang. "Aku tahu."
"O tahu?" Tanti menoleh.
"Iya, dari cara dia pulang belakangan ini," jawab Arman. "Anak itu kalau jatuh cinta, kepalanya setengah hilang."
Dede tersenyum kecil. Bukan karena lucu, tapi karena ada kebenaran pahit di sana.
"Terus?" tanya Arman pelan. "Kamu kenapa, De?"
Pertanyaan itu sederhana. Tapi untuk pertama kalinya hari itu, Dede merasa ada orang yang benar - benar melihatnya.
"Aku? Nggak kenapa-napa, memangnya harus kenapa - kenapa rupanya? Kan sudah biasa kalau dia punya pacar, dia langsung sombong sama aku," jawab Dede mencoba sedikit bercanda.
Arman menggeleng pelan. "Mana ada nggak kenapa - kenapa, dia ribut sama Esti dulu gara - gara Esti cemburu sama kamu kan? Jadi sekarang sama Sandra kamu nggak mau diajaknya karena takut?"
Dede menelan ludah. Tangannya mengepal di atas tas.
Arman tentu saja tidak asal bicara, bahkan beberapa hari yang lalu, Arsya tidak memperbolehkan Dede pulang dengannya, posisinya masih sama saja dari dulu, dan sekarang mulai berubah walaupun baru hitungan dua hari. Sebagai saudara kembarnya Arman tahu betul perubahan itu. Tappi yang Arman tidak tahu adalah ucapan adiknya tadi.
"Tadi Arsya ada ngomongin Dede sama teman - temannya dibelakang kantin," sela Tanti.
"Nggak ada!" sahut Dede cepat sambil menoleh ke belakang.
"Ngomong apa dia?" tanya Arman yang tidak mau mendengar bantahan Dede barusan.
Tanti jadi ciut juga melihat pelototan Dede.
"Biasalah ... kalau bercanda suka kelewatan," jawab Tanti yang memutuskan untuk tidak menceritakan secara gamblang.
Arman tidak langsung bicara. Rahangnya mengeras, tapi suaranya tetap dijaga ketika akhirnya keluar. "Anak itu memang kadang nggak mikir mulutnya."
Dede tersenyum tipis. "Iya, aku tahu kali Arsya kalo ngomong bang ... pahamlah kita, kan? Makanya aku merasa biasa - biasa aja, Tanti aja yang berlebihan."
Di kursi belakang Tanti mendengus mendengar jawaban Dede.
Bukan aku yang berlebihan, tapi nggak tahu juga ya ... kupingku nggak terbiasa dengar kayak gitu, tega kali dia ngomong soal sahabatnya kayak gitu."
Dede melirik Tanti sebentar, tapi tidak membantah.
"Memangnya apa yang diomongkannya?"
"Nggak ada, biasalah dia lucu - lucuan sama kawannya itu," sahut Dede cepat sebelum Tanti yang menjawab.
Kalimat itu membuat Arman terdiam sejenak. Dia tidak yakin ucapan Arsya tidak menyakiti perasaan Dede, sekalipun Dede bilang itu lucu - lucuan.
Mobil berhenti di lampu merah. Arman menatap jalanan di depan, lalu berkata pelan, "Kadang orang nggak sadar apa yang dia punya, sampai dia benar - benar kehilangan."
Dede tidak menjawab. Ia tahu kalimat itu bukan nasihat, bukan juga penghiburan, hanya pernyataan.
Lampu hijau menyala. mobil kembali berjalan.
Ketika sampai di depan rumah Dede, Arman meminggirkan mobilnya. Tanti turun lebih dulu.
"Makasih, Bang," kata Dede sambil membuka pintu.
Arman menoleh. "Kalau kamu mau pulang sama aku lain kali, tinggal bilang. Jangan merasa nggak enak, wa aja aku, biar kutunggu."
Dede mengangguk. "Iya, makasih."
Ia menutup pintu mobil Arman, lalu melangkah masuk ke halaman rumah. Terdengar klakson mobil Arman ketika meninggalkan pagar rumahnya.
Di teras, Dedeberhenti sejenak, menarik napas panjang sebelum membuka pintu. Tanti hanya memperhatikannya saja.
Di dalam rumah, suasana tenang. Dede meletakkan tasnya, lalu duduk di kursi ruang keluarga. Ia tidak langsung ke kamar. Ia butuh duduk sebentar, membiarkan kepalanya kosong.
"Kenapa kok kau nggak mau ngaku sama Arman soal Arsya tadi?" tanya Tanti penasaran.
"Udah lah nggak usah dibahas. Nggak usah pula diadukan sama Arman kelakuan Arsya itu. Suka hatinya lah mau ngomong apa, nggak ada ruginya juga kok, aku," jawab Dede terlihat santai.
"Nggak ada ruginya? Kau jadi bahan tertawaan sama kawan-kawannya, masa kau bilang nggak ada ruginya? Kalau kau mau, kau tendang aja kepala mereka satu - satu, biar diam moncongnya itu!"
Tanti terlihat geram.
"Apa pula kau mau nendang - nendang kepala orang?"
"Heran kali aku sama kau ini, De. Kok baik hati kali lah? Bucin itu boleh - boleh aja ... tapi kau tengok - tengok juga la ya kan, Pantas nggak orangnya kau bucinin, jangan kau telan semua!"
"Hmmm."
Terlihat Dede malas menanggapinya.
Hari ini terlalu melelahkan. Bukan karena pelajaran, bukan juga karena latihan. Tapi karena satu percakapan yang tidak pernah ia minta untuk dengar.
Sementara di tempat lain, Arsya mungkin sedang tertawa, mungkin sedang sibuk dengan dunianya yang baru dengan Sandra.
Dede tidak ingin tahu.
Yang ia tahu, hari ini ia pulang tanpa Arsya. Dan entah kenapa, itu terasa seperti awal dari sesuatu yang lain. Sesuatu yang sunyi, tapi mungkin lebih jujur.
Ia bangkit, mengajak Tanti masuk ke kamarnya, lalu menutup pintu pelan.
Tugasnya sekarang adalah meredam kemarahan Tanti, ia khawatir sahabatnya ini bisa jadi darah tinggi kalau terus memikirkan soal Arsya.