Ingkar Janji

3134 Kata
Pagi itu datang dengan rasa ringan yang masih tersisa dari malam sebelumnya, bukan untuk Dede, melainkan untuk Arsya. Ia bangun lebih pagi dari biasanya, membuka ponsel, membaca ulang pesan-pesan yang masuk semalam. Tidak banyak. Satu dari Sandra, berisi ucapan singkat yang manis, cukup untuk membuatnya tersenyum sendiri. Tiba-tiba ia teringat janji untuk menjemput Dede sepulangnya latihan nanti. Kemarin, dengan nada yang nyaris memaksa, ia berjanji akan menjemput Dede setelah latihan taekwondo. Janji yang keluar begitu saja, spontan, seperti kebiasaan mereka selama ini. Dede sempat tertawa kecil waktu itu, tapi akhirnya mengangguk. Jam sepuluh pagi atau kalau mundur sedikit bisa sampai jam setengah sebelas. Arsya sudah biasa menunggui Dede latihan. Biasanya juga Dede suka menemaninya latihan basket disekolah atau di club, hanya saja karena minggu ini banyak pekan ulangan, Arsya tidak latihan. Arsya menghela napas pelan. Ia bangkit, merapikan tempat tidur, lalu menuju kamar mandi. Air dingin menyadarkannya sepenuhnya. Di bawah guyuran air, ia mengulang satu kalimat yang semalam tertanam rapi di kepalanya, kalimat lembut yang diucapkan Sandra dengan senyum pengertian, tapi berisi permintaan yang tegas, tidak ada orang lain di antara hubungan mereka. Pukul delapan tepat, ponselnya bergetar. Nama Sandra muncul di layar. "Selamat pagi pacar," suara Sandra terdengar cerah. "Kamu sudah bangun?" Belum apa-apa Arsya sudah tertawa "Sudah," jawab Arsya. "Kenapa, San?" "Aku lagi kepikiran … hari ini kamu kosong, kan?" Arsya terdiam sebentar. "Sebentar sih. Nanti jam sepuluh aku mau jemput Dede. Dia latihan." "Oh," kata Sandra, nadanya tetap lembut. "Latihan apa?" "Latihan taekwondo." "Owh." Sandra tidak langsung menjawab. Ada jeda yang pendek, tapi cukup terasa. " Tadinya aku mau ngajak kamu pergi hari ini, tapi ya udahlah nggak usah ... Kamu kan mau jemput Dede." Arsya mengernyit. "Nggak sepagi ini kan? Aku jemput Dede cuma sebentar kok, jam sebelas juga selesai " "Hm ... maksudku dari jam sepuluhan gitu, kamu jemput aku jam sepuluh terus kita ke mall jalan - jalan, terus makan siang bareng, habis itu ke cafe atau ke mana kek gitu, sampai sore. Mumpung libur, aku pengen quality time sama pacarku," ucap Sandra, suaranya halus, tanpa nada memaksa. Arsya menoleh ke jendela. Matahari sudah tinggi. Ia bisa saja menolak. Ia hampir menolak. Bibirnya sudah membentuk kata, tapi pikirannya keburu mengingat satu hal, semalam, ia sudah mengangguk. Ia sudah bilang mengerti. Ia sudah menerima batasan itu. "Aku kan baru jadian sama kamu," lanjut Sandra pelan. "Aku pengen kita nikmatin ini berdua dulu. Tanpa gangguan." Tanpa gangguan. Kata-kata itu tidak menyebut nama siapa pun, tapi Arsya tahu betul arah pembicaraannya. "Aku nggak maksud apa-apa," tambah Sandra cepat, seolah membaca kebimbangannya. "Kalau kamu nggak bisa, nggak apa-apa kok, mungkin next time." Arsya memejamkan mata sejenak. Dalam kepalanya, wajah Dede muncul, wajah judesnya, cara ia mengangguk kalau diberi janji. Tapi di saat yang sama, ada perasaan baru yang menguat, perasaan ingin menyenangkan orang yang baru saja ia pilih sebagai pacar. "Ya sudah," kata Arsya akhirnya. "Kita pergi." Sandra tertawa kecil, lega. "Oke. Aku siap-siap dulu. Kamu jemput aku ya." "Iya.' Telepon ditutup. Arsya menatap layar ponselnya beberapa detik. Dadanya terasa sedikit sesak, tapi ia menepisnya. Ia membuka w******p, mencari nama Dede, lalu mengetik cepat sebelum ia sempat berubah pikiran. Arsya De, maaf ya. Hari ini aku nggak bisa jemput. Mendadak aku ada keperluan. Kamu bisa pulang sendiri kan? Sorry ya. Tidak ada penjelasan dan tidak ada tambahan kata-kata. Ia menekan kirim, lalu meletakkan ponsel di meja, seolah itu akan menyelesaikan segalanya dan Dede bisa menerima dengan lapang d**a seperti biasa. -- Sejak SD, orang tua Dede sudah memutuskan satu hal yang tidak bisa ditawar: anak mereka harus bisa membela diri. Bukan karena Dede sering berkelahi, bukan pula karena ia terlihat lemah, tapi justru karena ia anak tunggal jadi harus bisa menjaga diri sendiri. Taekwondo menjadi jawabannya. Dede suka dengan olahraga ini dibanding silat atau karate. Tahun demi tahun berlalu, dari sabuk putih, kuning, hijau, biru, merah, hingga akhirnya hitam. Tidak instan dan tentu saja tidak mudah. Ada jatuh, lebam, ada hari - hari pulang dengan kaki gemetar dan tangan pegal. Tapi Dede bertahan. Ia belajar satu hal paling penting sejak kecil, kekuatan bukan tentang menyerang, tapi tentang mengendalikan diri. Dan pagi ini, di tempat latihan yang sudah ia kenal seperti rumah kedua, Dede kembali berdiri dengan dobok putihnya yang bersih dan sabuk hitam terikat rapi di pinggang. "Joonbi!" Tubuhnya otomatis tegap. Kaki rapat. Punggung lurus. "Charyeot!" Dede menahan napas. "Kyungnae!" Ia membungkuk dalam, penuh hormat. Bukan hanya pada Sabeum atau pelatihnya, tapi pada proses panjang yang membentuk dirinya sampai hari ini. "Pemanasan! Lari! Lima putaran! Jangan ada yang santai!" teriak Sabeum Partama. Langkah kaki menghantam matras berulang kali. Ritmis, berat dan nafas mulai memburu. Keringat muncul di pelipis Dede, tapi pikirannya jernih. Di tempat ini, ia tidak perlu berpura-pura kuat, karena nyatanya ia memang kuat. "Peregangan, jangan asal!" teriak sabeum lagi setelah sesi sebelumnya selesai. Dede menunduk, meregangkan otot paha, betis, bahu. Otot-ototnya terasa panas, tapi ia tahu batasnya. Sabuk hitam bukan soal kekuatan mentah, tapi kesadaran penuh atas tubuh sendiri. "Ap chagi!" "Hap!" Tendangan dilepaskan lurus, bersih, tidak berlebihan dan tegas. "Dollyo chagi!" "Hap!" Pinggangnya berputar sempurna. Kaki terangkat tinggi, hentakan udara terdengar jelas. Di setiap teriakan "Hap!", ada sesuatu yang dilepaskan Dede. Bukan amarah, bukan pula kecewa. Tapi semua kata yang selama ini ia simpan rapi di dalam dirinya. Di luar matras, Dede adalah orang yang jarang bersuara keras. Ia memilih diam, memilih mengalah, memilih tersenyum bahkan ketika hatinya tidak sepenuhnya baik-baik saja. Tapi di sini, teriakan bukan hal yang harus ditahan. "Kombinasi! Jangan lambat!" Pukulan, tangkisan, tendangan. Semua mengalir dalam satu rangkaian yang terlatih. Nafas Dede makin berat, tapi matanya fokus. Ia tidak memikirkan apa pun selain gerakan berikutnya. "Lebih tegas, Dede!" Ia mengangguk singkat. "Hap!" Teriakan itu keluar lebih keras dari sebelumnya. Pelatih menatapnya, lalu mengangguk puas. "Bagus. Sabuk hitam memang harus begitu." Kalimat itu sederhana, tapi mengandung pengakuan. Pengakuan atas tahun-tahun latihan, disiplin, dan pengendalian diri. Sesuatu yang jarang Dede dapatkan dalam bentuk kata-kata di kesehariannya. Latihan berlanjut ke sparring. Dede berhadapan dengan murid yang lebih muda. Mereka saling membungkuk. "Mulai!" Gerakan cepat. Dede menahan serangan, membalas seperlunya. Tidak berlebihan atau ingin menunjukkan d******i. Ia tahu kapan harus berhenti. Peluit ditiup. "Selesai!" Dede menarik napas panjang. Keringat mengalir deras. Dadanya naik turun, tapi pikirannya terasa ringan. Di atas matras, semuanya jelas. Tidak ada perasaan abu-abu atau janji yang dibatalkan tanpa penjelasan. Selanjutnya mereka mulai bergantian sparing atas perintah Sabeum Partama. Setelah latihan, Dede duduk di pinggir matras, menyeka wajah dengan handuk. Pelatih menghampirinya. "Latihan kau bagus hari ini," kata pelatih. "Fokus." Dede tersenyum kecil. "Sabuk hitam itu bukan cuma di pinggang," lanjut Sabeum Partama. "Tapi di sikap." Dede mengangguk. Ia paham maksudnya. Ia tahu, kekuatannya selama ini bukan hanya di tendangan atau pukulan, tapi di caranya menahan diri, menjaga dan tidak menyerang walau mampu. "Kau belum juga mau melatih, De?" "Belum ada waktunya, aku latihan biasa ajalah, bang." "Bagi - bagi lah ilmu hitam itu." Dede tertawa..."Nggak mempan ilmu hitamku itu, bang ... masih agak-agak coklat tua, kayaknya." "Asal jangan kau pake buat melet orang, De," seru yang lain. Mereka bercanda setelah latihan selesai untuk sekedar meluruskan kaki sebentar. Dan ketika dia berdiri mau menuju ruang ganti, Tama, rekan latihannya menghampiri. "Pulang sama siapa, De ... kalau nggak ada yang jemput sama aku aja. Aku mau ke arah area rumah kau juga." "Nggak usah bang, sudah mau dijemputnya aku." "Siapa, Arsya?" "Iya." "Okelah, aku duluan." "Iya, bang. Makasih ya."Tama pergi sambil mengangkat tangannya. Dede terus berjalan ke ruang ganti, membuka loker, mengambil tas dan merogoh ponselnya. Jam hampir menunjukkan setengah sebelas siang, barulah ia melihat satu pesan yang masuk sejak dua jam lalu. Dari Arsya. Arsya De, maaf ya. Hari ini aku nggak jadi jemput. Mendadak aku ada keperluan. Kamu bisa pulang sendiri kan? Sorry ya. Dede membaca pesan itu sekali. Lalu menatap layar tanpa ekspresi. Tidak ada kemarahan dan ini bukan kejutan. Hanya rasa kecewa kecil yang muncul, seperti nyeri otot setelah latihan keras tidak mematikan, tapi terasa. Kemarin, Arsya yang memaksa untuk menjemputnya. Kemarin, Arsya yang bilang akan tetap datang walaupun jam latihan Dede suka tidak jelas. Tapi Dede tidak mau bertanya. karena ia tahu , di dunia luar, tidak semua janji sejelas aba-aba di matras. Ia lalu memesan taksi online. Sopir mamanya libur hari Minggu, dan Dede sudah terbiasa mengurus dirinya sendiri. Setelah mendapatkan taksi online, ia memasukkan ponselnya ke dalam tas tanpa membalas pesan Arsya tadi. Dia tidak merajuk, tapi ia merasa tidak perlu juga membalas karena Arsya juga tidak akan peduli. Mobil taksi pesanannya datang sepuluh menit kemudian. Ia duduk di kursi belakang, tubuhnya masih terasa hangat oleh latihan. "Sesuai titik pesanan ya, Kak?" "Iya," jawab Dede. Minggu pagi menjelang siang ini jalanan tidak terlalu ramai , atau tepatnya belum terlalu ramai. Mungkin kalau agak siang sudah banyak orang yang keluar rumah menuju ke mall atau ke Resto untuk membawa keluarga mereka jalan-jalan. Ketika mobil berhenti di lampu merah tidak jauh dari rumahnya, pandangannya tanpa sengaja menangkap satu pemandangan yang langsung ia kenali. Mobil Arsya! Mobil itu melintas dari arah berlawanan. Di kursi penumpang, Sandra duduk dengan wajah cerah, tubuh condong sedikit ke arah Arsya. Mereka terlihat sedang ngobrol sambil tertawa dan terlihat nyaman satu dengan yang lainnya. Dede menatap itu beberapa detik saja, tidak lama dan tidak ingin terlalu lama juga. Ia tersenyum miris. Bukan karena kalah dan bukan karena cemburu berlebihan. Tapi karena ia tahu, di atas matras, ia diajari untuk berdiri tegak, menyerang dengan tegas, dan tidak ragu. Tapi dalam urusan perasaan, ia justru memilih langkah paling sulit, yaitu menahan diri, apalagi ia hanyalah seorang sahabat. Dan mungkin, itulah pertarungan terberatnya. Dede tiba di rumah, dan ketika ia masuk mamanya heran melihat ia sendirian. "Mana Mas Arsya, biasanya mampir. Mama udah mau ngajak dia makan siang." "Dia buru-buru, lagi ada janji sama temannya, katanya titip salam aja buat mama," jawab Dede dengan ekspresi wajah yang santai. Dia tidak mau terlihat kalau Arsya sedang mengabaikannya. Mungkin mamanya tidak akan marah, tapi dia tidak mau Arsya terlihat jelek di mata siapapun, termasuk mamanya. "O, kirim salam lagi lah kalau gitu. Makan dulu De, udah lapar nggak?" "Nggak lah Ma, nanti nanti aja, aku mau mandi dulu terus istirahat, capek kali badanku .... Tadi aku juga sudah ngemil-ngemil habis latihan, ada yang bawa makanan tadi." "Ya udahlah, Papa sama Mama makan duluan ya, nanti kalau mau makan minta aja kak Tiar panasin makanannya." "Iya, aku ke kamar dulu." Sampai di kamar Dede langsung mandi, berganti pakaian, dan duduk di atas tempat tidurnya. Ponselnya tidak berbunyi. Ia juga tidak sedang menunggu siapa-siapa. Ia memilih membuka buku harian, mencatat hal-hal kecil seperti biasa. Di dalam dirinya, ada perasaan yang tidak meledak, tapi juga tidak hilang. Perasaan yang memilih diam, menunggu waktu untuk memahami apa artinya. Dan hari ini, di bawah matahari Medan yang panas, satu jarak lagi terbentuk, lebih nyata dari sebelumnya. Tanpa siapa pun berniat melukainya, tanpa ada yang benar-benar jahat. Hanya pilihan-pilihan kecil yang mulai menunjukkan arah. ----- Di tempat lain, siang Arsya berjalan dengan cara yang nyaris terlalu sempurna. Restoran yang mereka pilih ramai, penuh suara gelas beradu dan tawa pengunjung lain, tapi entah kenapa meja mereka terasa seperti dunia kecil yang terpisah. Sandra duduk berhadapan dengannya, rapi, wangi, dan penuh cerita. Ia bercerita tentang hal-hal ringan, tentang makanan, tentang tempat yang ingin ia kunjungi, tentang rencana-rencana kecil yang terdengar seperti masa depan yang sudah disusun rapi. Arsya mendengarkan. Ia tertawa di waktu yang tepat, mengangguk saat diperlukan. Tangannya sesekali bergerak membetulkan posisi piring Sandra, atau menuangkan air minum tanpa diminta. Gerakan-gerakan kecil yang terlihat manis. Terlihat perhatian. Terlihat seperti pasangan yang seharusnya memang begitu. Sandra menyukai itu. Ia tersenyum puas, matanya berbinar setiap kali Arsya memujinya. Ia tidak perlu meminta lebih. Arsya memberikannya dengan sendirinya. Sandra merasa semakin beruntung memiliki pacar seperti Arsya. Setelah makan, mereka berjalan-jalan. Masuk ke toko-toko yang sebenarnya tidak perlu dimasuki, berhenti hanya untuk melihat-lihat, lalu keluar sambil tertawa. Sandra menggandeng lengan Arsya tanpa ragu, seolah posisi itu memang sudah sewajarnya miliknya. Arsya tidak menolak. Ia membiarkan dirinya larut dalam suasana yang ringan, hangat, dan jujur saja ini sangat terasa menyenangkan. Namun di sela tawa itu, pikirannya sesekali melayang. Singkat, sekilas dan seperti bayangan yang lewat di kaca jendela mobil. Ia tidak mengejarnya dan juga tidak menamainya. Menjelang sore, mereka kembali ke mobil. Cahaya matahari mulai turun, membuat jalanan terlihat keemasan. Sandra bersandar di kursi penumpang, menatap keluar jendela dengan ekspresi puas, seperti seseorang yang baru saja memastikan sesuatu berjalan sesuai rencana. "Hari ini menyenangkan, bisa nggak kita buat begini setiap weekend?" katanya, dengan suara yang lembut. Arsya mengangguk. "Bisa aja." Sandra menoleh, menatapnya lama. Tatapannya bukan sekadar manis, ada keyakinan di sana. Kepemilikan yang dibungkus kelembutan. "Aku senang kamu pilih aku hari ini, Terima kasih ya Sya." Kalimat itu jatuh pelan, tapi tepat sasaran. Bukan tuduhan atau desakan. Hanya pernyataan sederhana yang terasa seperti pengingat. Arsya tersenyum. Senyum yang sedikit lebih kaku dari sebelumnya. Kata "pilih" bergema di kepalanya, berat tapi tidak cukup berat untuk ia bantah. Ia mengangguk lagi, seolah itu memang jawaban yang benar, jawaban yang dewasa dan memang yang seharusnya. Sandra tersenyum lebih lebar. Ia kembali bersandar, terlihat tenang. Aman. Dan di hari yang sama, tanpa pertengkaran, tanpa drama, tanpa satu pun kata keras, Arsya telah menepati satu pilihan, pilihan yang membuat seseorang di sisinya tersenyum puas. Sementara di tempat lain, sebuah janji dibiarkan gugur begitu saja. Tidak dibatalkan dengan suara, tidak dijelaskan dengan alasan, hanya dilewati tanpa rasa bersalah dan yakin dimaklumi seperti biasa. Kisah hari Minggu Arsya dan Sandra terlihat romantis, bahagia, dan menyebalkan. Karena cinta yang terlihat indah tidak selalu berarti tidak ada yang ditinggalkan di belakangnya. * Pagi berikutnya datang dengan ritme yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Bel sekolah hari senin berbunyi, siswa berbondong-bondong keluar dari kelas, lorong-lorong kembali riuh. Tidak ada yang berubah di permukaan. Tapi bagi beberapa orang, arah hari itu sudah sedikit bergeser. Minggu pertama setiap bulan adalah saatnya upacara bendera. Arsya tiba agak lebih pagi. Ia masuk kelas dengan langkah santai untuk meletakkan tasnya dulu, ia disambut Opung yang sudah siap berjalan ke lapangan. "Cepatlah Sya..." komentar Opung tanpa menoleh. "Iya sebentar, nggak akan telat kita upacara ..." jawab Arsya ringan lalu berjalan keluar kelas. Di baris kelasnya, Dede sudah berdiri di depan Tanti. Sama sekali tidak menoleh ketika melihat Arsya dan Opung jalan menuju barisan kelas mereka. Upacara bendera berlangsung cepat karena matahari sudah mulai tinggi dan panas. Setelah upacara dibubarkan, mereka langsung masuk kelas masing-masing untuk memulai jam pelajaran pertama. Dede dan Tanti sudah lebih dulu duduk di kursi mereka karena tanpa banyak ngobrol mereka tadi langsung menuju kelas, apalagi Tanti yang merasa sudah sangat haus mengajak Dede buru-buru. Dede tampak fokus, tidak menoleh ketika Arsya masuk ke dalam kelas. Bukan karena sengaja menghindar, hanya karena memang tidak ada perlunya. Pandangan Arsya sempat tertahan di sana, sekilas, lalu ngobrol dengan teman-temannya. Tahu-tahu Sandra muncul di kelas mereka beberapa menit kemudian. Rambutnya diikat rapi, langkahnya tenang seolah tahu guru masih lama masuk ke dalam kelas. Ia langsung menghampiri Arsya, menyapanya dengan senyum kecil yang terjaga. "Kamu sudah sarapan?" tanyanya pelan. "Sudah," jawab Arsya. "Oh," Sandra tersenyum. "Nanti jam istirahat kita makan buah aja ya. di kantin, Aku bawa." Kalimat itu terdengar biasa, tapi aneh ketika Dede ikut mendengar walau tidak sengaja. Suara Sandra terlalu mengundang untuk makhluk hidup di sekitarnya mendengar apa yang sedang ia bicarakan dengan Arsya. Arsya mengangguk. "Boleh." "Ya udah aku balik ke kelas dulu, semangat ya belajarnya." Dari bangkunya, Dede mendengar itu tanpa benar-benar mendengarkan. Ia tetap menulis, tetap di tempatnya. Tidak ada ekspresi yang perlu disembunyikan. Tanti tidak berkomentar apa-apa. Ia tahu Dede mendengar, ia juga melihat Dede tidak bereaksi. Berarti ada yang salah, dan dia hanya perlu menunggu. Jam pelajaran berjalan. Guru menjelaskan, siswa mencatat. Dede sama sekali tidak menoleh ke arah Arsya, tapi Arsya melihat ke arahnya. Saat bel istirahat berbunyi, Arsya biasanya langsung keluar tapi seperti dilambat-lambatkan. Dan akhirnya jarak Arsya keluar kelas dengan Dede, hanya berbeda beberapa detik, alias beriringan. Di saat itu Sandra yang biasanya menunggu di kantin malah langsung menghampiri kelas mereka dan bertemulah di depan kelas. "Sya ... Kita nongkrong di belakang aja yuk," ajak Sandra. "Ke kantin nggak?" tanya Arsya. Sandra menggeleng halus. "Rame. Aku pengen ngobrol bentar aja sama kamu." "Ya sudah," kata Arsya. Mereka berjalan melewati Dede dan Tanti tanpa menyapa. Tanti melirik Dede. "Kau nggak mau ikut?" "Mau ngapain aku ikut mereka?" "Biasanya kau ikut. Kan selama ini kau kebal jadi kambing congek." "Itu biasanya," ulang Dede pelan sambil berjalan,"Hari ini luar biasa." Tanti ingin bertanya lebih jauh, tapi menahan diri. Ia tahu, ada keputusan kecil yang sedang dijalani Dede dengan caranya sendiri. Sementara itu di taman belakang, Sandra duduk di bangku semen, mengeluarkan kotak kecil berisi buah potong. Ia menyerahkan satu tusuk ke Arsya. "Makannya pelan," katanya lembut. "Jangan buru-buru." Arsya menurut. Mereka duduk berdampingan. Angin pagi berembus ringan. "Aku kepikiran jadwal kamu," kata Sandra tiba-tiba. "katanya kamu latihan basket dua kali seminggu ya?" "Iya yang di sekolah, di club dua kali juga," jawab Arsya. "Buat aku kedengerannya padat," Sandra tersenyum. "...mau nggak kalau diatur sedikit supaya kamu jangan kecapean?" "Atur gimana?" "Yang disekolah satu kali aja, bukannya kamu di cub lebih penting?" Kalimat-kalimat itu jatuh pelan. Tidak terdengar seperti larangan. Lebih seperti perhatian. Arsya mengangguk. "Iya juga sih." Sandra menatapnya, memastikan. "Aku cuma pengen waktu kita jelas." Di kantin , Dede dan Tanti duduk di meja dekat etalase. Ia menikmati makannya. Sementara Geng Arsya masih di tempat yang sama tapi tanpa Arsya. Ponselnya bergetar. Pesan dari Arsya. Arsya De, nanti kamu pulang sama Tanti ya, aku mau duluan. Tidak ada penjelasan. Tidak ada permintaan maaf panjang. Dede membaca sekali, lalu mengunci layar. Ia tidak membalas. Bukan karena marah. Ia hanya mulai menyesuaikan langkah, mengurangi satu kebiasaan, menutup satu pintu kecil yang selama ini selalu terbuka. Dede tidak memberitahu Tanti soal ini. Dan saat pelajaran terakhir selesai, Arsya berkemas. Biasanya ia menghampiri Dede. Hari itu, Sandra sudah berdiri Menunggunya di depan kelas "Kita pulang sekarang?" tanya Sandra. "Iya," jawab Arsya. Dede melihat dari jauh. Ia mengangkat tas, berjalan ke arah berlawanan. Tanti mengejarnya. "Kau pulang sama siapa?" tanya Tanti. "Taksi online aja," jawab Dede. "Kau yakin?" "Iya. Kenapa rupanya?" "Tumben kok nggak sama mereka?" "Aku lagi malas, capek kau bilang kambing congek terus." Tanti tertawa. "Kalau gitu jangan langsung pulang lah, nongkrong dulu kita yuk." "Nongkrong di mana?" "Di mana aja lah... Ngopi-ngopi cantik, ngobrol, ketawa-ketawa kita." "Mau di rumahku aja?" tawar Dede. "Semua yang kusebut dapat nggak?" "Kalau kopi-kopi aja, banyak di rumahku... kue pun ada." "Ayolah gass, lagi malas pulang aku." Mereka pun jalan berdua menuju tempat titik jemput taksi online yang sudah dipesan oleh Dede. Dari parkiran, Arsya sempat melihat Dede berjalan menjauh. Ada dorongan kecil di dadanya untuk memanggil, tapi Sandra sudah membuka pintu mobil. "Ayo," katanya. Arsya mengangguk. Di perjalanan, Sandra memutar musik pelan. "Hari ini enak ya. Nggak capek." "Iya," jawab Arsya, tapi pikirannya teringat punggung Dede yang menjauh tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN