Merasa Jadi Orang Ketiga

2606 Kata
Pagi berikutnya datang tanpa tanda apa pun yang istimewa. Matahari Medan muncul seperti biasa, Dede bangun, bersiap ke sekolah seperti biasa, melakukan semua rutinitasnya dengan gerakan yang sudah terlalu hafal. Tidak ada pesan dari Arsya sejak semalam, dan Dede tidak menunggunya. Di sekolah juga suasana berjalan normal. Dede duduk di bangkunya bersama Tanti, membuka buku, mencatat pelajaran. Arsya datang sedikit terlambat, disambut Opung dengan komentar khasnya yang membuat beberapa teman tertawa. Arsya membalas dengan santai, lalu duduk di bangkunya. Mereka tidak langsung saling menyapa. Bukan karena ada masalah, hanya saja karena suasana kelas terlalu ramai. Namun sesekali, pandangan mereka bertemu. Singkat dan biasa saja. Tidak ada yang perlu ditafsirkan lebih jauh. Saat keluar main Arsya sudah menghilang ke kantin, sudah bisa diduga dia mau apa di sana. Tentu saja sudah janjian sama Sandra. "Mau makan apa di kantin?" tanya Tanti ketika mereka baru berdiri setelah membereskan meja. "Nggak tahu, asal jangan bukan bakso aja." "Sate Padang mau nggak?" "Jualan nggak hari ini? Bukannya si udanya sakit, ya?" "Nggak tahu juga, udahlah kita lihat aja." Keduanya berjalan menuju kantin sambil membawa Tumblr masing-masing. Sampai di kantin lagi-lagi mereka bertemu dengan kerumunan Arsya dan gengnya, juga Sandra dengan seorang temannya. "De ... sini," panggil Sandra. "Aku disana aja," jawab Dede sambil menunjuk ada meja yang kosong. "Mana mau si Dede duduk di sini ... ada si Abai, dia takut di add ke grup WA keluarganya Abai soalnya ...Hahaha.." Abai adalah Abizar, teman genk Arsya juga, tidak kalah heboh seperti Togar yang barusan berkomentar, malah lebih cenderung tengil. Dia anak IPS, tapi circlenya sama anak IPA, dan satu lagi, Ia suka menggoda Dede. Dede yang mendengarkan itu hanya geleng-geleng kepala dan berjalan meninggalkan grup itu, ia memilih duduk bersama Tanti, jauh dari mereka. Sesekali terdengar tawa mereka membahana... Jumlah mereka memang tidak sedikit, sekitar sepuluh orang di sana, dan semuanya teman-teman Arsya. "Akrab kali rupanya kau sama si Sandra itu? Sampai-sampai mau diajaknya kau gabung di sana?" tanya Tanti sambil mengambil sedotan. "Akrab gimana, biasa aja. kan kau tahu kemarin aku pulang sama dia." "Ada kelen ngobrol?" "Lebih banyak dia ngobrol sama si Arsya daripada aku. Tapi ada juga dia ngomong sama aku sesekali." Tanti kadang rasanya gemas sendiri, rasanya ingin menegur, atau memeluk Dede. Tapi yang ia risaukan selalu terlihat baik-baik saja. Terlalu baik, malah. "Kalau dia pulang sama Sandra lagi, kau nggak usah ikut lah, De ... Mau ngapain jadi kambing congek? Keknya sopir Mama kau pun bisa jemput, kan? atau sama Arman gitu." "Nggak boleh sama dia, sudah mau ditumpangi pun aku sama si Arman kemaren, tapi dilarangnya." "Nggak ngerti aku fungsi Kau ada di sana. Siapa diantarnya pulang dulu?" "Si Sandra." "Nggak kemana-mana, kelen?" "Ada kami pigi ke cafe kemarin. Sudah pernah aku ke Cafe itu sama Arsya. Tapi mau ditunjukkannya ke Sandra kalau Cafe itu bagus, makanannya enak, makanya kami ke sana lagi kemarin." "Terus?" "Terus apa? Biasalah minum kopi, makan kue ... ngobrol, habis itu diantarnya Sandra pulang, sudah itu aku, nggak ada yang aneh nya." Tanti menatap Dede. "Kau ini pintar, tapi kadang ada tololnya juga." "Suka hati kau lah, aku mau cari makan dulu." Dede berdiri menuju etalase kantin untuk memesan makanan. Seperti yang sudah diperkirakan, sate yang ia cari masih tutup. Akhirnya Dede memesan siomay, lalu kembali ke tempat duduknya, gantian Tanti yang memesan makan. Mereka duduk dan makan tapi tidak membahas lagi soal Arsya dan Sandra, karena Tanti tahu sepertinya Dede tidak suka akan pembahasan itu, tepatnya ia tidak mau dibilang t***l karena mengikuti kemauan Arsya. * Siang ini ternyata mereka pulang lebih cepat karena ada rapat guru di jam pelajaran terakhir. Arsya kembali menghampiri Dede dan mengajaknya pulang.. "De, ayo pulang," katanya, seolah itu ajakan paling biasa. Dede mengangguk. "Iya." Tanti hanya bisa melihat tanpa berkomentar Di parkiran, Sandra sudah berdiri di dekat mobil Arsya. Kali ini, Dede sudah siap. Tidak ada kaget, tidak ada jeda terlalu lama. "Ikut lagi ya," kata Sandra sambil tersenyum. "Iya," jawab Dede. Mereka kembali menjalani pola yang sama. Sandra di depan, Dede di belakang. Arsya di tengah, menjadi poros dari dua dunia yang berbeda tapi berjalan bersamaan. Di dalam mobil, Sandra bercerita tentang rencana ikut lomba, tentang teman-temannya, tentang hal-hal yang membuatnya terlihat hidup dan penuh warna. Arsya mendengarkan. Dede ikut mendengar, tanpa merasa tersisih, tanpa merasa ingin masuk terlalu jauh. Di satu titik, Sandra menoleh ke belakang. "De, kamu nggak bosen ya dengerin aku ngomong?" Dede tersenyum. "Nggak. Ceritamu asik." Sandra tertawa kecil. "Kamu baik kali," ucap Sandra walaupun dengan logat yang masih kaku. Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi bagi Dede, itu cukup. Ia tidak perlu menjadi lebih dari itu. Hari ini lagi-lagi mereka mampir ke cafe yang lain, masih seperti kemarin juga. Kali ini Sandra banyak mendominasi cerita, mulai dari keluarganya yang blasteran itu, turun ke pergaulannya di Jakarta, sampai alasan keluarganya pindah ke Medan. Arsya terlihat mengangguk penuh perhatian, sedangkan Dede ada bosannya juga. Tapi ia ingin terlihat lebih bersahabat dengan cara tersenyum dan sesekali mengalihkan pandangannya ke ponsel. Intinya hari ini tidak ada yang istimewa, dan mulai membosankan. Ketika sudah mengantarkan Sandra pulang kini gilirannya diantar pulang oleh Arsya. Di perjalanan Arsya mengeluh soal beberapa mata pelajaran. "Belajar lagi ya, De. Aku pulang dulu sebentar, habis mandi, nanti aku balik lagi ke rumahmu, aku mau belajar kimia." "Ngapain juga harus bolak-balik, mandi di rumahku aja lah, bukannya di bagasimu ada baju?" "O iya ada. Tapi kamu yang telepon mama ya, bilangin aku mau belajar, jangan dikiranya aku ngelayap entah ke mana. Belum lagi kalau Bang Arman mau fitnah aku bilang main terus." "Kok besar kepala kali sampe nuduh Bang Arman mau ngadu? Setahuku nggak ada Bang Arman gitu " "Kamu belum dengar aja kalo dia lagi manas-manasin mama." Dede langsung mengambil ponselnya dari dalam tas lalu menekan nama Tante Ana di kontaknya. Panggilan langsung tersambung dan direspon hanya dengan beberapa kali deringan saja. "Halo Dede sayang," jawab Tante Ana dari seberang sana. "Tante, Dede ganggu nggak?" "Nggak, Tante lagi istirahat menjelang jam praktek selanjutnya." "Oh tante lagi di rumah sakit?" "Iya. Ada apa, De?" "Ini Dede lagi sama Mas Arsya, besok kami ujian kimia, katanya Mas Arsya mau belajar di sini cuman takutnya tante nggak percaya, jadi Dede disuruh nelpon." Terdengar tawa Tante Ana, tapi setelah itu ia mengizinkan anaknya belajar dengan Dede. "Ya udah tapi jangan malam-malam ya selesainya." "Iya, tante. Makasih ya tante." "Iya." Telepon itu terputus, setelah itu Dede menoleh ke arah Arsya yang duduk di sebelahnya. "Sudah beres, kan?" "Kalau nggak ada kamu, entah lah apa, aku ini," kata Arsya sambil merebahkan kepala sebentar ke setir saat lampu merah, maksudnya supaya kelihatan dramatis. Dede malah tertawa. Ia tidak menanggapi. Karena ada kalimat yang tidak perlu ditanggapi agar tidak menjadi harapan. Malamnya ketika mereka sedang belajar ternyata Sandra menelpon Arsya, video call pula. Di situ ia tahu kalau Arsya sedang di rumah Dede. Arsya memberitahu kalau ia sedang belajar kimia, dan Akhirnya mereka hanya berteleponan sebentar saja, Arsya yang menyudahi karena ia masih fokus belajar. "Nanti kalau sudah pulang aku telepon," begitu janji Arsya, dan diiyakan oleh Sandra. Rupanya kejadian malam itu agak terasa efeknya oleh Dede. Terasa ada perubahan kecil mulai terjadi keesokan harinya saat mereka pulang bersama. Sandra mulai terlihat lebih sering diam saat ada Dede. Tatapannya lebih lama, senyumnya lebih tipis, tidak seperti orang sedang marah, tapi Dede merasa lebih sedang diamati. Tentu saja Dede menyadari itu, tapi tidak menanggapi. Ia tetap sopan. Tetap ramah. Tetap di jarak yang aman Hari Kamis sore ketika mereka pulang sekolah, tiba-tiba Arsya bilang sesuatu ke Dede saat mereka sedang menuju mobil, "De, aku antar dulu kamu pulang, ya ... aku mau ajak si Sandra jalan berdua dulu sebentar, mau PDKT, malam minggu nanti mau kutembak dia," ucap Arsya sambil nyengir Dede langsung menoleh," Kalo repot kali, aku ikut bang Arman aja, pasti belum pulang dia." "Ah masa gitu aja merajuk, nggak kubiarkan juga kamu pulang sama bang Arman." "Iih ... siapa pula yang merajuk, aku kan cuma mau kasih gampang aja, biar nggak usah repot-repot kelen antar aku pulang dulu, lumayan juga jadi banyak waktu terbuang." "Mana ada waktu terbuang, cuma setengah jam nya pulang pergi. Nggak repot pun aku. Pokoknya kamu ikut aku pulang." "Ya sudah lah, terserah aja, aku nggak maksa lho ya." "Iya, nggak ada yang bisa maksa aku, Kalau aku nggak mau ya nggak mau ... Tapi kalau aku bilang ikut aku ya harus ikut aku," jawab Arsya yang keras kepala itu. Ketika mereka tiba di mobil, Sandra belum ada. "Kemana pula si bule itu?" gumam Arsya, tapi bisa didengar Dede. "Belum keluar kelas kayaknya." "Hmm." Tiba-tiba muncul Arman yang membawa tasnya dan mengeluarkan kunci dari saku celananya. "Nggak mau ikut aku aja De ... nggak pening ikut si Arsya sama ceweknya terus?" "Seandainya aku bisa ..." jawab Dede dengan raut wajah dibuat sedih. "Lari aja ... tuh pintu mobil nggak ku kunci, tinggal masuk. Mending jalan-jalan kita daripada ikut dia." "Sudahlah Bang, pulang aja lah sendiri, nggak usah cari-cari kawan lagi. Dede aku yang antar. Abang nggak usah repot kali lah," sahut Arsya dengan wajah masam. "Kau yang repot ... ngapain kau tenteng - tenteng si Dede, sementara cewek kau ikut juga." "Siapa yang bilang cewekku, kan belum!" Nada ada suara Arsya mulai tinggi. "Sudahlah sudahlah, kok kelen jadi ribut ... Aku ikut Arsya," ucap Dede lalu masuk ke dalam mobil, di kursi belakang seperti biasa. Arsya menyalakan mobil dan menyalakan AC sekaligus sambil menunggu Sandra. Terlihat Arman hanya geleng - geleng kepala lalu masuk ke dalam mobilnya, tidak berapa lama mobilnya duluan meninggalkan area parkir. Sandra datang beberapa detik setelah Arman pergi. "Sorry, Sya ... tadi ada ulangan jam terakhir, agak susah ... dikasih perpajangan waktu sepuluh menit ... jadi keluarnya lama," ucap Sandra memberikan alasan kenapa ia terlambat keluar. "Nggak apa-apa, cuma beberapa menit kok bedanya, Ayo masuk ... Dede sudah di dalam." Sandra mengangguk lalu membuka pintu depan dan masuk ke dalam mobil, Ia bahkan tidak menyapa Dede sama sekali, dan Arsya tidak tahu atau lebih tepatnya tidak menyadari. Ketika mobil sudah mulai berjalan meninggalkan lahan parkir, Arsya pun mengatakan rencananya kepada Sandra. "Kita antar Dede pulang dulu ya, dia ada keperluan jadi harus pulang cepat." Dede yang duduk di kursi belakang sampai terperangah mendengar alasan yang disampaikan oleh Arsya. Tapi setelah melihat kedipan mata Arsya melalui spion tengah, Ia hanya bisa diam. "O iya, nggak apa - apa, biar sekalian tahu rumah Dede." "Rumahku biasa aja, San, nggak besar kali kayak rumahmu, kok," sahut Dede. "Uhm ... maksudnnya bukan gedenya, tapi aku pengen tahu di mana," jawab Sandra. "Oooh ... Tapi jangan kayak Arsya ya, rumahku sudah dianggap rumahnya sendiri." Arsya tertawa, tapi Sandra tidak. "Kek tempat bimbel rumahnya kubuat," tambah Arsya lagi. "Bimbel gratis." "Eh aku bayar," jawab Arsya. "Membahas sepuluh soal fisika cuman dibayar coklat satu biji, mana sepadan itu. Sandra yang senyum-senyum aja kamu kasih coklat yang sama, murah kali bayaran lesku itu." Sandra kaget, Arsya juga. Tapi bukan Arsya namanya kalau tidak bisa mengendalikan keadaan. "Harusnya berapa coklat, rupanya?" "Sepuluh gerobak lah, baru impas itu." "Nanti aku bikinkan jadi sepuluh gerobak, diakumulasi dulu satu semester." Selama sisa perjalanan hanya Arsya dan Dede yang bersahut-sahutan, sementara Sandra berubah menjadi pendiam, bahkan sampai Dede turun dan pamit. --- Cafe itu tidak terlalu ramai sore itu. Musik pelan mengalun di latar, cukup untuk mengisi keheningan tanpa mengganggu percakapan. Suasana cukup ramai dengan pelanggan seumur mereka Arsya dan Sandra duduk berhadapan. Meja kecil di antara mereka berisi dua cup kopi dingin dan sepotong cake milik Sandra yang belum tersentuh. Arsya terlihat sedikit gelisah. Bukan karena tempatnya, tapi karena ia sedang menimbang sesuatu yang sudah ia rencanakan sejak beberapa hari lalu. Sandra mengaduk kopinya perlahan memakai sedotan. Gerakannya lembut, nyaris terlalu hati-hati. "Capek ya hari ini," kata Sandra akhirnya, seolah hanya membuka obrolan biasa. "Biasa aja," jawab Arsya. "Tapi senang." Sandra tersenyum tipis. "Senang kenapa?" "Ya… senang aja. Bisa keluar, bisa duduk gini." Sandra mengangguk, lalu menyesap kopinya. Ia diam cukup lama setelah itu. Terlalu lama untuk sebuah obrolan santai. "Ada yang mau kamu omongin?" tanya Arsya, akhirnya. Sandra mengangkat wajahnya. Tatapannya lembut, tapi sorot matanya seperti sedang mengukur. "Sebenernya aku cuma mikir aja." "Mikir apa?" Sandra tersenyum lagi. Senyum yang rapi. Terlalu rapi. "Bukannya aku keberatan Dede ada, ya." Arsya langsung menegakkan tubuhnya sedikit. "Kenapa pula tiba-tiba ngomongin Dede?" Sandra mengangkat bahu kecil. "Nggak kenapa-kenapa. Aku cuma ngerasa … gimana ya ngomongnya." Ia terdiam lagi, lalu melanjutkan dengan suara yang tetap tenang. "Aku tuh orangnya nggak enakan. Jadi kadang susah ngomong terus terang." " Ngomong apa?" Arsya mulai bingung. "Bukan masalah Dede-nya," kata Sandra cepat, seolah ingin memastikan ia terdengar baik. "Dede baik, ramah. Aku suka kok sama dia." Arsya mengangguk pelan. "Cuma… aku ngerasa aku nggak bisa ngomong bebas sama kamu kalau ada dia." Kata-kata itu jatuh pelan, tapi efeknya cukup membuat Arsya mengernyit. "Bebas gimana maksudmu?" Sandra memainkan sendok kecil di piring cake. "Ya bebas aja. Ngomong apa pun tanpa mikir ada orang lain yang denger. Kadang aku pengen ngobrol berdua aja sama kamu, tapi… ada Dede." Ia tersenyum lagi. "Aku nggak mau kamu salah paham. Aku cuma ngerasa posisinya agak susah buat aku." Arsya menghela napas pelan. "Dede itu sahabatku dari kecil." "Aku tahu," jawab Sandra cepat. "Makanya aku nggak mau kelihatan posesif. Aku ngerti banget kok posisi dia." Kalimat itu terdengar dewasa. Pengertian. Tapi justru di situlah letak tekanannya. Arsya mengangguk, meski kepalanya semakin penuh. "Terus kamu maunya gimana?" Sandra mencondongkan badan sedikit ke depan. "Aku nggak minta kamu jauhin dia. Sama sekali nggak." "Tapi?" "Tapi mungkin … untuk momen - momen tertentu, kita bisa berdua aja." Ia tertawa kecil, seolah itu bukan permintaan besar. "Aku cuma pengen kenal kamu lebih dalam, Sya. Tanpa ada rasa nggak enak." Arsya terdiam. Ia menatap kopi di depannya, lalu kembali ke wajah Sandra. Wajah yang cantik. Wajah yang selalu terlihat tenang. Tidak pernah menuntut secara langsung, tapi membuat orang lain merasa perlu menyesuaikan diri. "Sebenernya aku mau ngomong sesuatu juga," kata Arsya akhirnya. Sandra langsung menegakkan tubuh. "Apa?" Arsya tersenyum kecil, agak gugup. "Aku rencananya … mau ngajak kamu jalan malam Minggu nanti." Sandra mengangkat alis, pura-pura terkejut. "Oh ya? Mau ke mana ?" tanya Sandra bersemangat. "Makan malam, nonton atau ke cafe ... terserah kamu." Sandra tidak langsung menjawab. Ia menatap Arsya lama. Terlalu lama. "Kemanapun kamu mau ajak aku, aku ikut aja " katanya akhirnya. "Tapi aku pengen jujur, boleh nggak?" "Jujur soal apa?" "Selama ini Aku kok merasa jadi orang ketiga di persahabatan orang lain." Arsya tersentak kecil. "Dede nggak pernah ..." "Aku tahu," potong Sandra lembut. "Makanya aku bilang, ini bukan salah siapa-siapa. Aku cuma ngomong perasaanku." Sandra tersenyum lagi. "Kalau kita lagi jalan berdua, aku pengen kita punya ruang sendiri." Arsya mengangguk pelan. Di kepalanya, bayangan Dede muncul. Duduk di kursi belakang mobil. Tersenyum seperti biasa. Tidak pernah protes. Tidak pernah minta apa-apa. "Oke," kata Arsya akhirnya. "Aku ngerti." Sandra terlihat lega. "Makasih ya, Sya. Kamu pengertian." Mereka melanjutkan sore itu dengan obrolan ringan. Tentang rencana malam Minggu. Tentang tempat makan. Tentang hal-hal yang membuat semuanya terlihat normal. Namun di dalam diri Arsya, ada sesuatu yang mulai bergeser. Bukan keputusan besar. Bukan kesadaran penuh. Tapi rasa bingung yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sementara itu, jauh dari cafe itu, Dede duduk di kamarnya, Iya sudah mandi dan iseng membuka buku tanpa benar-benar membaca. Ia tidak tahu ke mana Sandra dibawa Arsya dan apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi entah kenapa, ada rasa gelisah yang muncul tanpa sebab jelas. Dan di antara dua tempat yang berbeda itu, satu di cafe dengan suasana yang mungkin hangat, satu di kamar dengan suhu yang sangat dingin, ada sebuah jarak mulai terbentuk. Jarak yang belum dinamai siapa pun. Jarak yang perlahan akan mengubah banyak hal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN