Jadian

3019 Kata
Permintaan Sandra tidak serta - merta langsung dengan perubahan Arsya. Meskipun katanya lebih nyaman tidak ada Dede, tapi pulang sekolah besoknya, Dede tetap ikut mereka. Hanya saja seperti kemarin, Dede diantar lebih dulu, baru Sandra. Sandra juga sebenarnya tidak memperlihatkan rasa tidak sukanya pada Dede, ia terlihat konsisten seperti yang ia katakan kepada Arsya bahwa dia bukannya tidak suka Dede, tapi dia hanya ingin berdua dengan Arsya. Jadi walaupun hanya sekedar menimpali obrolan Arsya dan Dede, ia terlihat berkontribusi juga, tidak hanya diam. Jumat malam berlalu seperti biasa bagi Dede. Tidak ada perasaan aneh, tidak ada firasat buruk yang datang tiba - tiba. Sampai di rumah, mandi lalu ia mengeluarkan buku dari tas, merapikan catatan sebentar. Lalu menjelang makan malam, ia membantu mamanya yang hari ini libur praktek dan terlihat sibuk di dapur menyiapkan makan malam. Semua berjalan normal, terlalu normal untuk sesuatu yang sebentar lagi akan berubah. --- Sabtu jam sepuluh pagi tiba - tiba Arsya menjemputnya, tanpa menelepon lebih dulu. "De, ikut aku bentar ya. Aku mau beli kado," kata Arsya sambil menyandarkan tubuh ke pintu mobil. "Kado apa pula?" tanya Dede heran. "Buat orang." "Orang siapa?" Arsya tertawa kecil. "Kepo kali. Temani aja aku." Dede mengangguk. Ia tidak pernah terlalu banyak bertanya soal Arsya. Setelah keduanya pamit kepada papa dan Mamanya Dede, mereka langsung pergi ke salah satu mall di pusat kota. Arsya memilih cukup lama, mondar - mandir dari satu toko ke toko lain, menimbang, bertanya pada pramuniaga, lalu kembali ragu. Akhirnya Arsya menerima pilihan Dede. Setelah itu mereka sempat makan siang juga sama - sama. "Kok sekarang ribet kali, Sya?" kata Dede akhirnya. "Biasanya mau beli apa - apa nggak mikir lama - lama." "Ini beda, De" jawab Arsya. "Beda kenapa?" Arsya diam sebentar, lalu berkata, "Aku mau bikin orang itu senang." Dede tersenyum. "Oh, aku tahu sekarang, pasti mau kasih kejutan buat Sandra ya?" tebak Dede. Arsya nyengir. "Kamu jadi mau nembak dia?" Arsya mengangguk. "Nanti sore aku mau jemput dia, kami mau nonton dulu rencananya, Terus lanjut makan malam, nah waktu makan malam itu aku mau nembak dia buat jadi pacarku." "Terus kadonya buat apa?" "Nggak ada, aku pengen kasih dia aja pas nganter dia pulang." "Owh ... kek ngasih goodie bag ya?" Arsya tertawa. "Ada aja istilah yang kamu buat, kan ini bukan habis menghadiri acara ulang tahun pakai goodie bag, pula." "Lah terus buat apa, nggak ada momennya tiba - tiba ngasih hadiah? Ulang tahun dia? Kok sibuk kali ... Kalau sudah nembak ya sudah,O tau aku...habis nembak dan diterima, mau kasih doorprize, kan?" Arsya ngakak. "Kesannya aku laki - laki anti mainstream, ya?" "Nah iya. Aiis aku lupa kalau kawanku ini banyak kali duitnya, dihambur - hamburkannya pun nggak apa .... Nggak akan habis juga duitnya, kan?" "Nggak gitu juga, ini kan cuma sekali - sekali aja, nggak tiap hari pun aku kasih kado dia." "Kalau aku jadi Sandra Aku minta kado tiap hari .." "Untung kamu bukan dia. Susah kalau ngobrol sama cewek matre." Dede tertawa ngakak, bisa-bisanya Arsya menuduhnya matre. Mungkin maksudnya cuma bercanda. Setelah makan siang itu mereka berpisah lebih cepat. Arsya bilang mau siap-siap. Dede diantarnya pulang. "Doain aku diterima ya," ucap Arsya ketika akan pamit pulang. "Sudah sering aku doakan, tapi tetap aja putus juga." "Kali ini nggak, serius kali aku sama Sandra." "O ... percaya kali aku," sahut Dede cepat. "Ih serius lho aku." "Aku juga serius ." "Tapi mukamu kayak ngejek aku." "Cepatlah pergi, salah aja aku terus, segala mukaku lah yang dibilang ngejek. Udah bagus kali ini aku pasang muka malaikat." "Iya, tapi malaikat pencabut nyawa yang aku lihat!" Dede tertawa lagi. "Sini kubilang dulu, De .. coba lah banyak senyum sedikit, mana tahu ada cowok yang mau nembak nanti. Kamu cantik, pintar ... cuma kok ngeri kali orang lihat cewek ngegas terus." "Kalaupun ada cowok yang mau nembak aku nanti, dia nggak perlu lihat sisi kepura-puraanku. Dia harus suka just the way I am. Mau syukur, nggak ya sudah, pening kali kepala mikirnya, nggak sepi pun dunia ini nggak ada pacar." "Nah kan ... Baru ku bilang gitu aja sudah marah, merajuk. Mana ada cowok yang mau sama cewek perajuk." "Ckk ... sudah lah pergi aja sana, nanti terlambat pula, jangan sampai gagal nembak pula malam nanti." "Ya udah aku pergi dulu, besok mau ke mana?" "Aku latihan." "Oh iya aku lupa ... Aku jemput lah pulang latihan, selesai jam sepuluh, kan?" "Nggak usah, aku nggak tahu pastinya selesai jam berapa." "Ya kalaupun belum selesai aku tunggu, biasanya juga gitu, kenapa jadi sombong kali sekarang?" "Terserahlah." "Ya udah aku pulang, Assalamualaikum ." "Waalaikumsalam." Setelah Arsya pergi Dede masuk ke rumah, ada Mamanya bersama Papanya lagi duduk di ruang tengah. "Mana Mas Arsya?" "Udah pulang Ma, buru-buru dia tadi, mau ada acara lagi." "Owh. O ya, De... Nanti malam kita pergi ya, Mau makan malam di luar." "Jam berapa, Ma." "Habis maghrib, Mama janjian sama Om Kana sama Tante Ana." "Dalam rangka apa?" "Nggak ada, udah lama juga nggak makan malam sama-sama." "Memangnya Bang Arman sama Mas Arsya ikut?" "Katanya gitu, mau bawa anak-anak." "Berarti Bang Arman aja, Mas Arsya ada acara sama ceweknya." Jawaban Dede menarik perhatian mamanya. "Sudah punya pacar lagi dia? Bukannya sudah putus sama siapa namanya , Esti?" "Itu sudah lama, ini ada baru lagi, anak pindahan dari Jakarta .. Namanya Sandra ." "Owh.... Mungkin lah dia nggak ikut, Mama nggak tahu juga." "Ya udah Aku masuk dulu ya," pamit Dede. "Sudah makan belum?" "Sudah tadi sama mas Arsya." "Oke." Dede pun masuk ke dalam kamarnya. * Sabtu sore ini, Arsya tidak pergi dengan Dede seperti biasanya. Ia sudah punya rencana sendiri. Kini ia berdiri di depan cermin kamar, merapikan kerah kemejanya untuk ketiga kalinya, lalu menyemprotkan parfum dengan takaran yang menurutnya pas, tidak terlalu menyengat, tapi cukup membuat orang sadar ia baru saja lewat. Sementara itu diruang keluarga, Arman duduk sambil memainkan ponsel. Ia melirik sekali ke arah Arsya, lalu mengembuskan napas pelan seperti orang yang sudah bisa menebak skenario hari ini. "Mau kemana kau rupanya, rapi gitu?" tanya Arman, pura-pura tak peduli. Arsya mengangkat bahu. "Jalan lah, malam minggu ini Bos!" "Sudah tahu aku ini malam minggu, kayak punya pacar aja," sahut Arman menoleh lebih jelas. Arsya hanya nyengir. "Udah lah, Bang, jangan under estimate gitu sama aku, nanti kaget pula." Mama Ana muncul dari dalam kamarnya setengah rapi. Tatapannya langsung menangkap kemeja rapi dan penampilan yang berbeda. "Mau ke mana, Mas?" tanyanya, nada suaranya otomatis seperti ibu-ibu yang sudah hafal pola anaknya. Arsya mendekat, mencium pipi mamanya . "Jemput kawan, Ma. Mau nonton terus makan malam dulu." Mama Ana menyipitkan mata. "Kawan siapa? Sama Dede? Nanti malam kan kita makan sama-sama dengan mama papanya." Arsya menahan tawa. "Bukan Dede. Eh mau pergi sama keluarga Om Sapta? Kok Dede nggak bilang tadi?" "Mungkin dia nggak tahu, Mamanya belum bilang kali." "Mau makan di mana?" "Mau cari seafood." "O ... Skip dulu lah aku malam ini ya, udah janji soalnya, Ma." "Mau kemana rupanya? Nggak bisa pulang habis magrib?" "Yang nggak bisa lah Ma, masa pergi jam tiga, magrib pulang... Cukuplah satu aja anak mama yang ada di rumah malam minggu kek gini, jangan sampai dua-duanya." Mama Ana tertawa. "Mau pigi sama siapa rupanya, kok misterius kali?" Arman mendengus. "Teman perempuan itu, Ma." "Haa ... sudah cewek baru lagi, rupanya." Arsya nyengir. "Kalau mama itung-itung sudah selusin kayaknya." "Empat belas, Ma," ralat Arsya. "Nggak ada yang tahan lama, cocoknya cuma sama Dede aja itu... sudah terbukti lama." Arsya tertawa. "Yang benar aja aku sama Dede, yang ada ribut terus aku nanti sama dia. Udah ah aku jalan dulu." Mama Ana menepuk bahu Arsya. "Jangan pulang terlalu larut, apalagi bawa anak gadis orang." "Iya, Ma. Paling jam sepuluh sudah di rumah." "Kalau jam sepuluh baru pulang, itu sudah larut," seloroh Arman. Arsya menatap abang kembarnya itu sekilas. "Kau ini, Bang. Macam bapak-bapak kali. Pak Arkana aja nggak segalak abang." Mama Ana menghela napas, tapi tersenyum. "Hati-hati di jalan. Jangan kebut-kebut. Dan kalau sudah sampai rumah orang, salam sama orang tuanya." "Iya, Ma. Tau lah aku. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Arsya mengambil kunci mobil, lalu keluar. Udara soreMedan panas seperti biasa, tapi cukup lembut. Cahaya matahari sore memantul di kap mobilnya saat ia Keluar dari halaman rumahnya yang luas. Rumah Sandra tidak terlalu jauh. Kawasan tempat tinggalnya lebih rapi, lebih sunyi, dengan pagar-pagar tinggi. Arsya memarkir mobil, lalu turun, merapikan rambut sebentar sebelum menekan bel. Tidak lama, pintu pagarnya terbuka. Tampak asisten rumah tangga datang sambil membawa kunci untuk membuka gembok pagar. Arsya dipersilahkan masuk, langsung ke ruang tamu. Tidak perlu menunggu karena Sandra langsung muncul dengan dress sederhana berwarna netral, rambutnya dibiarkan jatuh rapi, dan parfum yang wangi halus menguar pelan. Ia terlihat seperti seseorang yang sengaja dibuat untuk dipandang. Arsya sempat diam sepersekian detik. Bukan karena lupa cara bicara, tapi karena matanya seperti salah fokus. "Cantik kali bule ini," pikirnya. Sandra tersenyum, seolah tahu efek penampilanya membuat Arsya bengong. "Sebentar ya aku panggil Papa sama Mama dulu. Arsya mengangguk Sandra masuk ke ruang tengah ke dalam. "Ma, Pa, ini Arsya sudah datang." Seorang perempuan paruh baya keluar, wajahnya ramah. Di belakangnya ada seorang pria yang terlihat tenang, sorot matanya tajam tapi tidak menakutkan. Arsya langsung menegakkan badan, sikapnya otomatis berubah lebih sopan. "Selamat sore, Tante. Om," sapa Arsya, lalu menyalami keduanya. "Iya, sore. Ini Arsya ya?" tanya ibunya Sandra, tersenyum. "Iya, Tante." "Anak dokter Arkana?" tanya ayah Sandra, seperti menguji ringan. Arsya mengangguk. "Iya, Om." Agak kaget juga sebenarnya Arsya ketika orang tuanya Sandra tahu ia anak siapa. Padahal dia tidak pernah bilang soal orang tuanya kepada Sandra. Mereka berbasa-basi sebentar. Sandra berdiri di samping, tampak manis dan tenang. Setelah beberapa menit, ibunya Sandra mengangguk kecil. "Ya sudah, kalau kalian pergi. Tapi jangan pulang terlalu malam ya, Arsya." Arsya tersenyum . "Iya, tante, habis makan malam nanti aku antar Sandra pulang." "Iya, nggak apa-apa ... Selamat menikmati malam minggu." Arsya dan Sandra pun keluar dari rumah itu, Sandra melangkah dengan tenang, seolah ia tidak pernah gugup. Arsya membuka pintu mobil untuknya. Sandra masuk, rapi, tanpa terburu-buru. Arsya menutup pintu, lalu mengitari mobil untuk duduk di kursi pengemudi. Begitu mobil berjalan, suasana di dalam terasa berbeda. Tidak ada geng. Tidak ada Opung. Tidak ada Togar. Tidak ada Dede. Hanya mereka berdua. Arsya melirik Sandra sekali lagi, lalu menahan senyum. "Kenapa?" tanya Sandra, seolah tidak tahu. Arsya terkekeh kecil. "Nggak kenapa-napa." Sandra menatap ke depan. "Kamu aneh sore ini, tapi terlihat berbeda." "Mana ada, aneh kayak apa?" "Kamu dari tadi melirik-lirik," ucap Sandra, suaranya tetap lembut. Arsya tertawa kecil, akhirnya menyerah. "Ya … kamu cantik kali sore ini, jadi ya gimana, wajarlah mataku ini nggak bisa diajak kerjasama, maunya lihat yang cantik-cantik aja." Sandra tersenyum lebih lebar. "Bisa aja." Sandra menghela napas kecil, lalu memalingkan wajah sedikit ke arah jendela, seolah menyembunyikan senyum. Cara Sandra bersikap membuat Arsya makin yakin, malam ini harus jadi malam yang tepat. "Kamu sudah beli tiketnya?" tanya Sandra. "Sudah ... mulainya jam empat lewat lima belas, sebentar lagi," jawab harusnya sambil melihat jam tangannya. Ketika mereka sudah tiba di mall yang dituju, Arsya langsung memakai jasa valet parking, mereka buru-buru karena jam nontonnya sekitar lima belas menit lagi. Mereka jalan biasa saja, tidak bergandengan tangan, mungkin masih canggung apalagi mereka kan belum jadian. Tapi sesekali Arsya merangkul bahu Sandra, apalagi waktu mereka naik eskalator, maksudnya melindungi Sandra. Yang pasti Sandra senangnya bukan main. Bahkan dia berharap bertemu seseorang yang kenal dengan mereka, entah itu teman sekolah atau siapapun itu, dia tidak bisa menutupi rasa bangganya berjalan berdua bersama Arsya Mahendra. Setelah mengambil tiketnya lalu Arsya menawarkan untuk membeli minuman atau makanan kepada Sandra. "Aku nggak mau makan popcorn, air mineral aja. Bukannya nanti kita mau makan juga? Aku nggak bisa terlalu kenyang," begitu jawab Sandra. "O ya udah." Akhirnya Arsya hanya membeli dua air mineral. Ketika mereka masuk, filmnya memang belum dimulai, tapi sedang tayangan iklan. Arsya dan Sandra duduk di tempat yang pas. Kursi ini selalu dipilih Arsya kalau mengajak nonton Dede ataupun teman wanita lainnya. Jadi Sandra bukanlah orang yang pertama atau satu-satunya yang duduk di kursi ini. Tidak ada istimewanya buat Arsya sebenarnya, tapi buat Sandra, dia sudah diperlakukan spesial oleh Arsya. -- Setelah nonton, mereka langsung ke salah satu restoran yang cukup terkenal di kota Medan. Tempatnya tidak terlalu mewah, tapi rapi, hangat, dan ramai dengan keluarga serta pasangan muda. Pelayan mengantar mereka ke meja yang agak privat di sudut. Arsya mempersilakan Sandra duduk lebih dulu. Setelah itu, ia ikut duduk, mencoba terlihat santai, padahal dadanya terasa sedikit lebih cepat. Makan malam berjalan lancar. Arsya banyak memuji apapun tentang Sandra, tentang cara bicaranya, tentang selera makanannya, bahkan tentang hal sepele seperti caranya memegang gelas. Sandra menanggapi dengan tawa kecil. Ia tidak menolak pujian, tapi juga tidak terlihat sombong. Ia hanya… menerima, seolah itu memang haknya. "Aku senang kamu ajak aku keluar gini," kata Sandra, saat mereka sudah hampir selesai makan. Arsya mengangguk. "Aku pun senang." Sandra menatap Arsya lama. Tatapannya lembut, tapi di situ juga ada sesuatu yang seperti pertanyaan. Seolah ia sedang menunggu Arsya mengatakan sesuatu yang dari tadi digantung. Arsya akhirnya menghela napas, lalu membuka pembicaraan yang sejak awal ia simpan. "Aku sebenernya ngajak kamu malam ini bukan cuma buat makan," katanya pelan. Sandra tidak terlihat terkejut. Ia hanya menunggu, seolah sudah menebak dari awal. "San ...setelah kedekatan kita beberapa minggu belakangan ini, aku rasanya mau kamu jadi pacarku." Sandra tersenyum, tapi belum menjawab karena tidak ada pertanyaan, ya ia dengar adalah pernyataan. "Kamu mau nggak jadi pacarku?" "Mau." Jawaban itu terlalu cepat. Terlalu mulus. Seolah Sandra sudah menyiapkan jawabannya sejak berminggu-minggu. Arsya terlihat lega, tidak perlu berusaha keras, ia langsung diterima, seperti biasa. Bahunya sedikit turun, napasnya terasa lebih ringan. "Makasih ya," ucap Arsya lalu menggenggam tangan Sandra yang ada di atas meja. Baru kali ini ia berani sejauh ini. "Aku senang," kata Sandra. "Aku sebenernya… aku juga sudah nunggu." "Nunggu?" Arsya mengerutkan kening. Sandra tertawa kecil. "Ya, kamu kan dari beberapa minggu ini perhatian sama aku, aku merasakan perhatian yang berbeda dari teman manapun." Arsya ikut tertawa. "Oh, jadi selama ini kamu sadar?" "Aku bukan batu," jawab Sandra lembut. Lagi - lagi, siapa yang tidak mau dengan Arsya Mahendra? Sandra sudah mendengar banyak dari teman-temannya: tentang Arsya yang populer, tentang keluarganya yang terpandang, tentang wajahnya yang gampang bikin orang menoleh. Tapi yang membuat Sandra merasa paling beruntung adalah perhatian yang Arsya beri belakangan ini. Perhatian yang konsisten, yang tidak main-main, dan yang terlihat tulus. Sandra menimpa satu telapak tangan yang lainnya di atas tangan Arsya yang sedang menggenggam tangannya tadi. Nada bicaranya tetap lembut ketika ia melanjutkan. "Aku cuma mau satu hal, Sya." "Apa?" tanya Arsya. Sandra tersenyum, seolah itu permintaan kecil. "Aku mau hubungan ini jelas. Bukan yang setengah-setengah." Arsya mengangguk cepat. " Apa ini kurang jelas, menurutku sudah jelas kali." Sandra menatapnya. "Maksudku… aku mau kamu benar-benar ada di sini. Sama aku. Kalau kamu sama aku, ya sama aku." Arsya mengernyit pelan, tapi tidak menolak. "Maksudmu gimana? Aku ya sama kamu ... Nggak mungkin aku punya pacar dua." Sandra menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya lagi dengan ekspresi yang sangat pengertian. Terlalu pengertian sampai rasanya seperti menekan dengan halus. "Aku nggak mau kamu salah paham," ucap Sandra pelan. "Aku nggak minta kamu ninggalin siapa-siapa. Aku nggak mau jadi cewek yang bikin kamu jauh dari teman-temanmu." Arsya mengangguk, tampak lega. "Tapi … aku juga nggak bisa terus-terusan ada di posisi merasa … kayak aku cuma tambahan," lanjut Sandra, suaranya halus. "Aku pengen kamu bisa bedain mana yang prioritas kamu." Ia tidak menyebut nama siapa pun. Tidak mengucap 'Dede'. Tidak menyentuh kata 'sahabat'. Tapi Arsya langsung paham, justru karena Sandra bicara seolah ia sangat dewasa. Arsya terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Iya. Aku ngerti." Sandra tersenyum manis, lalu menarik tangannya dari punggung tangan Arsya "Aku cuma mau hubungan yang kita jalani nanti nyaman. Itu aja." Arsya menatap Sandra dalam. Hatinya terasa hangat. Dalam pikirannya, ini wajar. Ini normal. Ini bagian dari pacaran. Bagian dari menjaga. Ia tidak menyadari, bahwa kalimat-kalimat lembut itu sedang membentuk pagar. Pagar yang tidak terlihat, tapi pelan-pelan mengarahkan langkahnya. "Aku mau kamu nyaman," jawab Arsya akhirnya. "Aku bisa." Sandra tersenyum lebih lebar, seolah menang tanpa perlu terlihat menang. "Makasih." Malam itu, mereka pulang dengan suasana romantis yang rapi. Sandra terlihat bahagia, Arsya terlihat puas. Mobil melaju di jalanan Medan yang mulai sepi, lampu-lampu kota memantul di kaca. Di depan rumah Sandra, sebelum turun, Sandra menatap Arsya dengan wajah lembut. "Jangan berubah ya," katanya. Arsya tertawa kecil. "Aku ini dari dulu gini." Sandra tersenyum. "Maksudku… jangan berubah jadi orang yang bikin aku ngerasa sendirian." Arsya mengangguk. "Nggak lah." Sebelum Sandra turun, Arsya menoleh ke belakang dan mengambil satu paper bag yang sudah ia siapkan dari tadi. "Ini aku ada hadiah buat kamu," ucap Arsya sambil menyerahkan bungkusan itu. "Hadiah apa?" tanya Sandra kaget tapi sekaligus senang dengan kejutan kecil itu. "Buka aja." "Boleh?" "Ya boleh, kan memang ku belikan untuk kamu," jawab Arsya. Wajah Sandra terlihat sumringah ketika mengeluarkan satu kotak kecil dari dalam paper bag itu. Sebuah jam tangan dari merk ternama, desainnya anggun, yang jelas tidak murahan dan hasil pilihan Dede yang menjadi hadiah untuk Sandra malam ini. "Bagus ...aku suka, selera kamu memang berkelas." Arsya nyengir, antara bangga rasa takut mengakui bahwa itu pilihan Dede, takut mood Sandra berubah jelek. "Pakein dong," pinta Sandra manja. Arsya pun menolongnya memakaikan jam tangan itu. "Harusnya nggak usah beliin aku yang mahal-mahal seperti ini, nanti aku kebiasaan." "Nggak apa-apa," jawab Arsya. "Duh keren ya... apa kata mamaku kalau lihat Aku pakai jam tangan ini.." Arsya tidak menanggapi hanya tersenyum saja. 'Cup' Satu kecupan di pipi Arsya di hadiahkan oleh Sandra sebagai balasan dari hadiah istimewanya malam ini. Tentu saja Arsya kaget sekaligus senang. "Terima kasih ya, Sya." Arsya mengangguk. Setelah itu mereka turun berdua. Arsya mengantarkan Sandra dan pamit kepada orang tuanya. Setelah itu Arsya langsung pamit pulang. Di sepanjang jalan pulang, Arsya senyum-senyum sendiri. Ia merasa malam ini sukses. Ia merasa sudah melakukan hal yang benar. Ia tidak tahu, malam itu bukan hanya awal pacaran. Tapi juga awal dari jarak yang diam-diam mulai tumbuh antara dirinya dan seseorang yang selama ini selalu ada, selalu menjaga perasaannya, menyiapkan segala kebutuhannya tanpa pernah meminta apa-apa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN