Restoran bertambah ramai malam itu. Keluarga Mahendra dan keluarga Sapta sedang menikmati hidangan. Lampu - lampu gantung berwarna kuning temaram membuat suasana hangat, hampir intim, meskipun satu meja panjang di sudut ruangan dipenuhi oleh dua keluarga yang saling berbaur tanpa jarak. Pelayan mondar - mandir membawa hidangan utama, aroma rempah dan masakan rumahan bercampur, membuat siapa pun yang duduk di sana merasa sedang berada di ruang makan sendiri, bukan di tempat umum. Obrolan mengalir santai, diiringi gelak tawa yang sesekali pecah, lalu diselingi pembicaraan yang lebih serius. Papa Kana dan Papa Sapta duduk berhadapan, berbincang tentang pekerjaan, rencana akhir tahun, dan sedikit nostalgia masa muda. Eyang Nino sesekali menyela dengan komentar pendek yang membuat semua orang

