Gerald sudah kembali ke dalam mobilnya. Pintu ditutup pelan, seolah ia takut suara itu bisa menarik perhatian Ririn. Dadanya naik turun ketika ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang sejak tadi tidak mau tunduk pada logika. Entah Ririn sempat melihatnya atau tidak. Entah perempuan itu mengenali bayangan yang sempat berdiri mematung di kejauhan. Yang jelas, untuk saat ini Gerald belum berani menemuinya. Kesadaran itu membuatnya mengernyit kesal. Sejak kapan ia, Gerald-pria yang terbiasa memberi perintah dan dituruti menjadi pengecut di hadapan seorang perempuan? Namun setiap kali terlintas kemungkinan Ririn kembali menatapnya dengan kebencian, atau lebih buruk lagi… dengan tatapan dingin dan jijik, seolah ia tidak berarti apa-apa, langkahnya selalu terhenti.

