Pintu kamar itu diketuk pelan. “Ririn?” suara sang nyonya terdengar dari balik daun pintu. “Ada yang mencarimu.” Tubuh Ririn menegang seketika. Jantungnya berdetak lebih cepat, pikirannya langsung melompat pada satu nama yang sejak tadi mengusiknya. Apa yang kulihat tadi benar…? Jangan-jangan… “L-laki atau perempuan, Bu?” tanya Ririn dengan suara bergetar, berusaha terdengar biasa. “Perempuan,” jawab sang nyonya. “Katanya temanmu.” “Teman?” gumam Ririn pelan, keningnya berkerut. Rasa penasaran mendorongnya melangkah keluar kamar. Begitu ia sampai di depan, langkahnya mendadak terhenti. Lila. Untuk sesaat, dunia terasa menyempit. Jantung Ririn berdegup keras, bukan karena rindu, melainkan amarah yang tiba-tiba naik, panas dan menyesakkan d**a. Wajah itu, senyum yang pernah ia perca

