“Ini bukan anak Aldo!” ujar Ririn sekali lagi dengan tegas. Kalimat itu seperti cambuk yang menghantam telinga Rani tanpa ampun. “Apa?!” suara Rani meninggi, tangannya gemetar menahan amarah yang mendadak memuncak. “Kamu sadar tidak dengan apa yang kamu ucapkan, Ririn?!” Rani menoleh tajam, matanya merah, bukan hanya karena marah, tapi juga karena rasa malu dan kecewa yang bercampur jadi satu. “Kamu mempermainkan ibu, ya? Sejak kapan kamu jadi anak yang mulutnya sembarangan begini?!” “Ibu...” “Diam!” potong Rani keras. “Ibu sudah cukup sabar! Kamu pergi tanpa izin, bekerja sembarangan, sekarang pulang-pulang bilang hamil, dan sekarang kamu bilang anak itu bukan anak suamimu?! Kamu mau menampar muka ibu di depan Aldo, hah?!” Aldo terdiam kaku di balik kemudi. Wajahnya pucat, rahangnya

