Rani akhirnya mengalah, meski hatinya masih dipenuhi tanya yang tidak terjawab. “Baiklah,” ucapnya berat. “Kamu boleh tinggal di rumah untuk sementara.” Ririn mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menarik napas panjang, seolah beban di dadanya sedikit terangkat. Setidaknya… ia tidak harus kembali ke rumah itu. Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang, namun justru menjadi sumber luka. “Tapi ada satu syarat,” lanjut Rani tegas. “Ayahmu belum boleh tahu apa-apa. Ibu belum siap menjelaskannya, dan ayahmu juga belum tentu kuat menerimanya.” Ririn menunduk. Ia sudah menduganya. “Kalau ayah bertanya,” sambung Rani, suaranya melembut namun tetap penuh kewaspadaan, “kau cukup bilang Aldo sedang ke luar kota. Urusan kerja. Jadi untuk sementara kamu tingg

