Mobil Gerald melaju kembali meninggalkan rumah Ririn. Sepanjang jalan, pikirannya kacau. Wajah Ririn yang menahan diri, kata-katanya yang dingin namun penuh luka, terus berputar di kepalanya. Sesampainya di mansion, Gerald tidak langsung masuk ke kamar. Ia justru melangkah ke ruang kerja ibunya. Lampu masih menyala, tanda ibunya belum beristirahat. “Ibu,” panggil Gerald pelan. Ibu Gerald menoleh. Wajahnya masih dingin, jelas belum sepenuhnya menerima apa yang terjadi sore tadi. “Kau sudah mengantarnya?” tanya sang ibu singkat. “Sudah,” jawab Gerald. Ia menarik kursi, duduk berhadapan dengan ibunya. Kali ini tanpa sikap defensif, tanpa nada menantang. “Ibu tidak menyukainya?” ucap Gerald lugas. Ibu Gerald mendengus kecil. “Kau tahu alasannya.” Gerald mengangguk. “Dan karena itula

