Begitu mereka duduk di ruang tamu, suasana langsung terasa formal. Ibu Gerald duduk dengan punggung tegak, jemarinya saling bertaut di atas pangkuan. Senyumnya masih terukir rapi dan sopan. “Jadi… kamu Ririn,” ucapnya pelan, dan kembali menatap dari ujung kepala hingga kaki tanpa benar-benar meneliti, tapi cukup membuat Ririn merasa ditimbang. “Iya, Tante,” jawab Ririn menunduk hormat. “Gerald jarang sekali membawa perempuan ke rumah,” lanjut ibu Gerald dengan nada ringan. “Apalagi sampai bilang ingin menikah. Padahal Tante sudah berkali-kali mendesaknya.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Tadinya Tante pikir Gerald akan membawa sekretarisnya, Lila. Ternyata bukan.” Tatapannya kembali tertuju pada Ririn. “Kamu pasti perempuan yang… istimewa.” Nada suaranya halus, namun ada jeda

