Namun keterkejutan di wajah Lila hanya bertahan sekejap. Sejak dulu, Lila adalah perempuan yang berani, bahkan ketika jelas-jelas bersalah, ia tetap merasa paling benar. “Benar,” ucapnya tegas, menegakkan dagu. “Aku memang menyukai Gerald.” Ririn menatapnya lekat, keningnya berkerut. “Bukankah dulu kau sendiri yang bilang Gerald pria yang suka gonta-ganti pasangan? Pria yang mengejar perempuan seenaknya?” tanyanya dingin. “Kalau begitu, kenapa kau justru menyukai pria seperti itu?” Tentu saja Lila tidak mungkin mengakui kebohongannya. Tidak mungkin mengaku bahwa semua cerita buruk tentang Gerald sengaja ia rangkai agar Ririn tidak pernah tertarik pada pria itu. “Namanya juga suka,” jawab Lila enteng. “Kalau sudah begitu, semua bisa diterima.” “Termasuk kalau kak Gerald itu bekas ak

