Setelah Aldo membawa ibunya pulang, suasana di rumah Rani masih menyisakan ketegangan yang menggantung. Pintu tertutup, langkah kaki menjauh, namun bekas luka dari kata-kata barusan masih terasa jelas di d**a semua orang. Ibu Gerald melangkah mendekat ke arah Rani. Tatapannya lembut, jauh berbeda dari kesan dingin yang sempat ia tunjukkan sebelumnya. “Ibu Rani,” ucapnya pelan namun tegas, “tolong percayalah… anak Ibu adalah perempuan yang baik. Kalau pun terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, itu bukan semata kesalahannya.” Rani—p yang sejak tadi hanya diam, menahan segala prasangka dan rasa kecewa, akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca. “Aku ini ibunya,” jawab Rani lirih. “Aku tahu Ririn bukan anak yang sembarangan. Tapi sebagai orang tua… aku bingung. Dia berubah, bany

