Ibu Gerald menatap putranya lama setelah mereka kembali ke mansion. Sorot matanya tak lagi setajam sebelumnya—ada kelelahan, juga perenungan yang dalam. “Ibu sudah bicara dari hati ke hati dengannya,” ucap sang ibu akhirnya. “Dan sekarang ibu paham… mengapa kamu memilih perempuan itu.” Gerald mengangkat wajahnya, menunggu. “Dia bukan hanya setia,” lanjut ibunya pelan, “tapi juga perempuan yang tulus.” Gerald terdiam. “Kau tidak perlu khawatir,” sambung sang ibu. “Ririn bukan memihak Aldo karena cintanya belum hilang. Bukan itu. Dia hanya tidak ingin Aldo dipermalukan. Dia pernah berutang nyawa pada pria itu, dan baginya… menjaga kehormatan Aldo adalah satu-satunya cara membayar utang tersebut.” Gerald mengepalkan tangannya perlahan. Ada sesuatu yang menyesak di dadanya, campuran a

