Begitu Lila menutup pintu dan langkah kakinya menjauh, suasana di dalam ruangan berubah seketika. Ririn langsung sadar, pertunjukan sudah selesai. Dengan wajah kembali dingin, ia menepis tangan Gerald yang masih melingkar di pinggangnya dan hendak bangkit dari pangkuan pria itu. Namun kali ini, Gerald tidak membiarkannya begitu saja. Tangannya justru menguat, menahan Ririn tetap di tempatnya. “Sudah selesai sandiwaranya?” tanya Gerald pelan, tapi nadanya tidak lagi selembut tadi. Ada sesuatu yang berbeda-tajam, penuh selidik. Ririn menoleh cepat, menatap Gerald dengan sorot mata datar. “Lepaskan aku.” Gerald tidak menjawab. Ia justru memandangi wajah Ririn lebih lama, seakan sedang menyusun kepingan-kepingan yang sejak tadi mengganggunya. Sikap dingin Ririn, perubahan mendadak saat

