Ririn menggeleng pelan. “Semua itu sudah jadi masa lalu, Mas,” ucapnya tenang, meski suaranya sempat bergetar tipis. “Aku tidak ingin mengungkit hal-hal yang menyakitkan lagi. Tidak untukku, tidak juga untukmu.” Aldo tersenyum pahit. Dadanya terasa sesak. “Aku yang menyesal, Rin,” katanya lirih. “Aku menyia-nyiakan perempuan sebaik kamu. Aku tidak pernah tahu kalau kamu menanggung semuanya sendirian, dihina, disalahkan, hanya demi menjaga martabatku.” Ia tertawa pendek, hambar. “Andai waktu bisa diulang, aku tidak ingin hubungan kita berakhir seperti ini. Tapi aku sadar… waktu tidak pernah memberi kesempatan kedua.” Aldo menghela napas panjang. “Paling tidak… aku berharap kita masih bisa berteman. Seperti dulu.” Ririn menatapnya lama. Tatapannya tidak dingin, tapi sudah tidak han

