Terlambat. Gerald sudah berdiri di belakangnya, Lengannya melingkar di pinggang Ririn, tidak menekan, tidak juga menahan. Telapak tangannya bahkan sengaja menjauh dari bagian depan tubuhnya, menjaga jarak aman dari perut yang kini tengah mengandung anaknya. Gerald menunduk sedikit. Dagunya hanya menyentuh pelipis Ririn, bukan leher, bukan bahu, sebuah jarak tipis yang sarat makna. Bagi orang lain, itu mungkin terlihat sebagai pose romantis biasa. Namun bagi Ririn, itu adalah pengakuan tanpa kata. Ia merasakan napas Gerald yang ditahan, detak jantung pria itu yang lebih cepat dari biasanya. Bukan karena gugup difoto, melainkan karena kesadaran penuh bahwa ia sedang memeluk ibu dari anaknya. Dia… menjaga. Kesadaran itu membuat d**a Ririn menghangat tanpa izin. Untuk pertama kalinya

