Kikan menarik napas dalam-dalam, “Yayah!” Keenan sedang di masa-masa sensitive dan rewel sekali. Sudah hampir dua minggu Halim kembali ke Berlin, Kikan sudah merindukan suaminya apalagi anak-anaknya. “Main yuk sama Kakak!” Felora sangat membantu, bersikap dewasa, mengajaknya main. “Ndak! Ndak!” Kepala Keenan menggeleng, tangisnya makin kencang. Ia mendorong kakaknya menjauh. Felora berkaca-kaca, Kikan coba bersikap tenang. “Adik lagi tidak mau main, makasih ya Kakak sudah berusaha ajak main, nanti kalau mood Keenan udah membaik, pasti mau.” “Iya deh, Fel panggil Eyang Uti ya?” tanyanya. “Jangan, tidak apa-apa. Keenan mau telepon Ayah. Nanti diam.” Asal sudah muncul wajah Halim atau dengar suaranya, Keenan akan mulai tenang. “Aku juga mau, Bunda! Kangen Ayah banget!” Ujarnya m

