Satu jam yang lalu, di balik pintu kamar hotel suaminya yang tertutup rapat, dunia Amindita seolah runtuh menjadi kepingan debu. Suara langkah kaki Praditya yang menjauh di koridor hotel terdengar seperti dentum palu hakim yang menjatuhkan vonis mati atas seluruh harapannya. Amindita berdiri mematung di tengah ruangan yang terlampau luas untuk dirinya yang sendirian. Matanya menatap nanar ke arah pintu, membayangkan punggung lebar suaminya yang terbalut beskap megah—beskap yang baru saja ia rapihkannya dengan tangan gemetar. Pria itu pergi untuk mengikat janji suci dengan wanita lain, sementara dirinya tertinggal di sini sebagai rahasia yang sebentar lagi akan selesai masanya. Tubuhnya lemas. Kakinya tak lagi sanggup menopang beratnya duka yang menghimpit. Amindita luruh ke lantai. Ia t

