62

1720 Kata

Suasana di dalam aula yang tadinya dipenuhi isak tangis kehancuran Widya, mendadak berubah menjadi hening yang mencekam saat Praditya melangkah ke tengah panggung. Ia merebut mik dari atas meja akad, suaranya menggelegar tenang namun penuh otoritas, membelah kebisingan kilatan kamera wartawan. "Harap tenang semuanya," ucap Praditya. Suaranya tidak bergetar sedikit pun. "Pernikahan hari ini memang tidak akan pernah terjadi. Bukan hanya karena kebusukan yang baru saja kalian saksikan, tapi karena saya sudah memiliki seorang istri." Pernyataan itu seperti ledakan bom kedua. Para tamu undangan saling berpandangan, dan para jurnalis mulai berebut posisi paling depan. "Empat bulan yang lalu," lanjut Praditya sembari menatap tajam ke arah kamera utama, "saya telah menikahi seorang wanita berna

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN