Kekhawatiran Wira dan Rayan bukanlah isapan jempol belaka. Tubuh manusia memiliki batas, dan Praditya Ararya baru saja melewati batas itu demi egonya. Baru saja ia melangkah keluar dari ambang pintu ruang kerjanya dengan langkah yang dipaksakan gagah, dunia di sekitarnya mendadak berputar hebat. Lantai marmer yang kokoh seolah berubah menjadi ombak yang bergulung. Praditya sempat berhenti, satu tangannya mencengkeram kusen pintu hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol. Ia mencoba mengedipkan mata untuk mengusir kabut hitam yang mulai menutup pandangannya, namun kepalanya terasa seperti dihantam palu godam. "Prad? Kau oke?" suara Wira terdengar jauh, seperti bergema di dalam lorong yang panjang. Praditya tidak sempat menjawab. Tubuh jangkungnya limbung. Lututnya menghantam lantai

