Cahaya lampu neon yang putih bersih menghujam masuk ke indra penglihatan Praditya, memaksa kelopak matanya yang terasa seberat timah untuk mengerjap berkali-kali. Langit-langit ruangan yang asing dan bau antiseptik yang tajam segera memberi tahu otaknya satu hal, ini bukan di kamar hotel, bukan pula di kantornya atau kamar penhousenya. "Prad? Kamu sudah sadar?" Suara bariton yang akrab itu membuat Praditya menolehkan kepalanya perlahan. Lehernya terasa kaku, dan rasa haus yang luar biasa mencekik tenggorokannya. Di samping ranjangnya, tiga pria berdiri dengan raut wajah yang berbeda, namun ketiganya memancarkan kelegaan yang sama. Mahendra berdiri paling dekat, tangan sang ayah masih memegang sandaran kursi, guratan kelelahan tercetak jelas di wajah tuanya. Di sebelahnya, Wira tampak s

