Sebelum mobil SUV hitam itu benar-benar berhenti di depan pagar kayu yang sederhana, jantung Praditya sudah berdegup jauh lebih kencang daripada saat ia menghadapi rapat pemegang saham terbesar dalam hidupnya. Ia menatap rumah kecil dengan cat putih yang mulai mengelupas di beberapa sisi itu—tempat di mana istrinya bersembunyi dari luka yang ia torehkan. Begitu pintu gerbang dibuka oleh seorang pria tua dengan sarung tersampir di bahu dan wajah yang teduh namun berwibawa, Praditya tidak menunggu sedetik pun. Ia melangkah keluar mobil, dan tepat di depan teras semen yang bersih, sang penguasa Ararya Group itu menjatuhkan kedua lututnya ke lantai. "Ayah..." suara Praditya parau, bergetar hebat. Pak Brotoadmodjo tertegun, langkahnya terhenti. Ia menatap menantunya yang kini bersimpuh di ka
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


