Dua minggu telah berlalu sejak insiden yang meruntuhkan kondisi fisik dan mental Praditya di Jakarta. Kini, sepasang sepatu pantofel yang mengkilap menapak dengan mantap di lantai kedatangan Bandara Internasional Juanda, Surabaya. Praditya Ararya berdiri tegak, meski tubuhnya sedikit lebih ramping dari sebelumnya, sorot matanya telah kembali tajam—dingin dan penuh determinasi yang tak tergoyahkan. Di sampingnya, Wira berjalan sembari sesekali memeriksa jadwal di ponselnya. Ia melirik sahabatnya itu dengan saksama, memastikan tidak ada lagi tanda-tanda limbung seperti dua minggu lalu. "Mobil sudah siap di depan, Prad," lapor Wira pelan. "Kita langsung menuju Batu? Perjalanan sekitar dua jam kalau lalu lintas lancar." Praditya terdiam sejenak, menatap hamparan langit Jawa Timur dari bal

