"Kau!" Geramnya, antara marah dan gengsi. Tapi, Marsha langsung meraih bibir itu dengan lembut. "Cium aku seperti ini, Mas. Aku menginginkannya." Bisik Marsha semakin membuat degub jantung Raksa seolah ingin meledak. Dia semakin sulit menguasai diri. "Kau, beraninya memancingku. Kita tidak akan pernah bisa bersatu selamanya. Aku memiliki orang lain di hatiku, dan aku sudah mencari keberadaannya. Jangan bermimpi bisa memilikiku..." geram Raksa yang kini sudah berada di atas tvbuh sang istri dengan tatapan sengit. "Wanita di lukisan dalam kamar mandi itu?" Marsha menatap getir ke arah sang suami. "Bagaimana kamu tahu, dia orangnya?" Tatap Raksa tajam. Karena dia tidak pernah memberitahukan kepada siapapun tentang wanita dalam lukisan itu. Orang yang melihat lukisan itu, mengira bahwa itu

