“Mama, aku gak mau yang ini. Rasanya kayak daun. Boleh ganti coklat aja enggak?” Tegar mendorong gelas minumanannya yang berisi matcha. Sore itu mereka akhirnya nongkrong di kafe setelah dari toko buku. Elang yang memaksa anak-anaknya agar mau ke toko buku. Meski selalu saja Azka yang mengumpulkan paling banyak buku, setidaknya adiknya terbiasa pergi ke toko buku. “Daun gimana?” Elang terkekeh. “Itu matcha, Tegar,” kata Naufal. “Emang kayak daun kok rasanya,” bela Rayhan. “Tadi udah aku bilangin kan, kamu gak bakal suka. Gak enak. Gak percaya dibilangin.” “Enggak kok, Kak. Ini enak matchanya,” kata Naufal. “Ah kamu aja yang eror lidahnya. Enak darimana,” kata Rayhan. “Mau pesen coklat?” tawar Ayu. Tegar mengangguk. “Kak Rayhan, Mama minta tolong adiknya ditemenin pesen coklat ya.

