Ayu sudah tertidur saat Elang pulang malam itu. Dia yang biasanya terbangun saat Elang masuk ke kamar, kali ini tampaknya terlalu lelap. Baru setelah tangannya bersinggungan dengan Elang, Ayu menggeragap bangun. “Mas Elang, sakit? Badannya panas gini,” Ayu bangkit. Dia mencari termometer dan memeriksa suhu tubuh Elang. Kemudian mengambil air putih dan obat turun panas. “Sejak kapan demam?” Ayu memaksa Elang duduk bersandar pada sandaran ranjang agar dapat menelan obat turun panas. “Udah sempet makan belum? Minum obat ya,” Ayu menyodorkan gelas berisi air putih. “Apanya yang sakit, Mas?” Ayu terlihat khawatir. Elang tersenyum tipis. “Cuma demam kok, Sayang, jangan khawatir.” “Tinggi gini demamnya. Ada yang sakit?” Elang menggeleng. “Aku bantuin ganti baju ya, Mas.” Elang mengangg

