Bab 116: Kartu Keluarga

1048 Kata

“Maafkan Mama ya,” Ayu memeluk keempatnya meski mungkin hanya Azka dan Rayhan yang mengerti. “Mama jangan menangis,” Tegar menghapus air mata ibunya. “Makasih ya, udah selalu ada sama Mama.” “Nanti aku belikan lagi cincinnya, tapi Mama gak boleh sedih,” ucap Tegar. Ayu tersenyum. “Iya, enggak. Emang Tegar mau belikan Mama cincin di mana?” “Itu di orang yang jualan keliling suka ada.” Ayu tertawa, demikian juga yang lainnya. “Ayo, siap-siap ke masjid, yuk,” ajak Pak Rohmat Ayu membantu mereka bersiap ke masjid, kemudian masuk ke ruang makan, dimana ibunya mulai menyiapkan makan malam. “Pasienmu masih banyak?” “Lumayan.” “Mau makan dulu?” “Entar aja, Ma,” ia hanya mengambil buah dan memakannya. “Azka sepertinya memang sudah tahu. Mungkin Papanya yang kasih tahu atau dia gak sen

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN