Sudah larut malam saat Elang tiba di rumahnya dengan menggunakan taksi. Ia sudah terlalu lelah hingga nyaris selalu tertidur sepanjang perjalanan. Kepergiannya kali ini benar-benar di luar prediksi. Elang sendiri tak pernah menyangka akan menghadapi kondisi dampak banjir yang serupa itu, dimana lumpur menumpuk nyaris menyentuh atap rumah. Tak terbayangkan bagaimana dahsyatnya arus yang membawa semua material itu. “Elang! Ya Allah kamu akhirnya pulang,” ibunya memeluknya, sambil memukul-mukul punggung anak lelakinya yang sudah dewasa itu. “Kamu kenapa beberapa hari ini menghilang! Kamu gak tahu kuatirnya Mama kayak apa!” Elang membiarkan wanita itu memukul punggungnya sepuasnya. Ayahnya berdiri di belakangnya dengan wajah sama mengantuknya sambil menggelengkan kepala. “Sudah kamu kaba

